Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2025

Iman Kita Melahirkan Rasa Aman Pada Sesama

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. ]رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ[

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabtu, 22 Juni 2024

Bilapun Berselisih, Jangan Sampai Berbantahan

 
 
Dalam berjama'ah, sangat mungkin muncul persoalan-persoalan. Termasuk persoalan yang membuat situasi dan kondisi tidak nyaman. Tetapi bila dicermati, persoalan-persoalan itu sebagian besarnya merupakan persoalan administratif-organisatoris yang berjangka. Sehingga bisa dievaluasi setiap putaran periode kepengurusan, atau bisa dievaluasi lima tahunan. Adapun yang langgeng itu dhawabith, ini yang mesti dijaga. Jadi kalau ada persoalan pada taraf administratif-organisatoris, sementara dhawabithnya (unsur yang mengikatnya) masih dijaga, maka InsyaAllah masih baik dan bisa diperbaiki.

Kamis, 25 April 2024

Yang Penting, Tetap Bersama Jama'ah Dakwah


Terkait jama'ah dakwah ini, seperti jawaban Kakek Rasulullah saat ditanya, "هل فعلا الكعبة لها رب يحميها؟" (Apakah Ka'bah memiliki Tuhan yang melindunginya?)

Rabu, 17 Februari 2021

SEMANGAT BELAJAR DI MASA PANDEMI: Kesungguhan Muncul Bila Ada Niat yang Benar

Semangat Belajar di Masa Pandemi

 

< I >

Kita lanjut. Kali ini lebih dalam lagi, tentang dasar wujudnya kesungguhan: itulah niat. Sejauh dan setinggi niat kita, maka sejauh dan setinggi itu pula napas kesungguhan kita. Sebenar niat kita, sebaik itu pula kesungguhan kita. Maka, sekarang kita renungkan perkara niat ini. Niat dalam belajar bagi murid, niat dalam menyekolahkan anak bagi orang tua atau wali murid, dan niat dalam mengajar bagi guru.

Mari kita sederhanakan pembahasannya pada dua hal: hal yang penting menjadi niat kita dan tanda kebenaran niat kita. Syeikh Az Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim setidaknya membimbing kita untuk menjaga dua niat ini: Niat untuk mendapatkan Ridha Allah dan Niat untuk Bersyukur kepada Allah. Adapun kualitas niatnya, beliau juga menyampaikan, bahwa itu dapat diidentifikasi melalui tampilan diri yang tampak. Dalam hal ini tentunya tampilan yang tampak pada diri seorang murid.

 dasar wujudnya kesungguhan: itulah niat

Selasa, 16 Februari 2021

SEMANGAT BELAJAR DI MASA PANDEMI: Semangat Muncul Bila Ada Kesungguhan

Semangat Belajar di Masa Pandemi

 

< I >

Mari kita lanjutkan perbincangan tentang semangat belajar di masa pandemi. Bahwa semangat yang terkait suasana hati itu, hanya akan muncul bila ada kesungguhan. Maka, sekarang kita bincangkan tentang kesungguhan. Kesungguhan seperti apa yang diperlukan? Kesungguhan pada siapa saja yang dikehendaki?

Baiklah. Kita coba seksamai dahulu penggalan kalimat dalam kitab Ta’lim Muta’allim. “Dengan kadar kesulitan usahamu, kamu akan mendapatkan apa yang kamu dambakan. Dikatakan, dalam belajar dan memperdalam ilmu itu diperlukan kesungguhan dari tiga orang: penuntut ilmu (murid), ustadz (guru), dan ayah bila masih hidup.”

Apa yang menghenyakkan kesadaran kita dari penggalan kalimat itu? Syeikh Az Zarnuji hendak membangunkan kesadaran itu. Rupanya, dalam belajar tak cukup kesungguhan seorang murid. Perlu kesungguhan guru, bahkan perlu kesungguhan ayah bila masih hidup. Tapi menurut saya, sosok ayah adalah simbolis dari orang tua maupun wali. Artinya, tanggungjawab kesungguhan itu bukan hanya pada ayah, tapi juga pada ibunya maupun wali di sekitarnya. Sehingga, bila pun ayah telah tiada, maka pendidikan anak perlu kesungguhan ibunya ataupun walinya.

Rupanya, dalam belajar tak cukup kesungguhan seorang murid. Perlu kesungguhan guru, bahkan perlu kesungguhan ayah bila masih hidup.

 

Senin, 15 Februari 2021

SEMANGAT BELAJAR DI MASA PANDEMI: Sebuah Prolog

Semangat Belajar di Masa Pandemi

 

< I >

Sebelum kita menyelami tema kita kali ini, alangkah baiknya kita telisik dahulu makna demi makna kata-kata yang menyusun tema ini; Semangat – Belajar – di Masa – Pandemi. Semangat itu artinya kekuatan dan suasana batin, perasaan hati, atau kemauan dan gairah. Belajar itu artinya usaha memperoleh ilmu, atau mengubah tingkah laku dengan pengalaman. Masa itu artinya jangka waktu yang agak lama, atau terjadinya suatu peristiwa penting, yang ada permulaan dan batasnya. Pandemi itu artinya wabah yang berjangkit serempak di mana-mana.

Dari pemaknaan itu maka kita dapat mendapatkan pemahaman awal bahwa semangat itu terkait hati dan belajar itu terkait ilmu yang mengubah tingkah laku berdasarkan pengalaman. Maka kita perlu bersyukur pula, bahwa dengan Pandemi ini sesungguhnya ada pengalaman yang Allah siapkan untuk anak-anak kita. Pengalaman yang tak didapati oleh generasi sebelumnya, dan tentu ada maksud dari Allah yang mungkin belum kita pahami hari ini. Kita juga mendapatkan pemahaman bahwa ketika pandemi ini disebut masa, maka sesungguhnya rentangnya memang akan agak lama bahkan belum terkirakan. Sehingga, sekilas pembahasan kita ini memang meminta kepada kita masing-masing untuk menyiapkan suasana hati kita untuk rentang yang memang agak lama. Maka jangan dianggap pandemi ini akan berakhir dalam satu atau dua bulan, atau dalam satu – dua semester, bahkan satu atau dua tahun. Meskipun kita berharap sesegera mungkin berakhir. Namun tanamkan pemahaman dalam diri kita, bahwa pandemi ini memang suatu masa yang jangka waktunya agak lama. Agar kita tidak kehabisan semangat di tengah perjalanan. Agar sedari awal kita memang mempersiapkan semangat kita untuk rentang yang lama itu. Anggap saja lebih dari setahun.

 

Tanamkan pemahaman dalam diri kita, bahwa pandemi ini memang suatu masa yang jangka waktunya agak lama. Agar kita tidak kehabisan semangat di tengah perjalanan. Agar sedari awal kita memang mempersiapkan semangat kita untuk rentang yang lama itu.

Kamis, 15 Agustus 2019

LIHAT! BUDI DAN BAHASA


“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.” Begitu pesan Raja Ali Haji dalam Gurindam-nya pasal kelima.

Senin, 28 Mei 2018

MENAHAN DIRI AGAR KITA TIDAK DITIMPA KESULITAN



Ketika Rasulullah dan kaum muslimin sampai di Zul Hulaifah dengan membawa 70 unta untuk qurban, berujarlah Umar bin Khaththab. "Wahai Nabi Allah, apakah engkau akan memasuki tempat suatu kaum yang bermusuhan denganmu tanpa membawa senjata dan tanpa membawa pasukan?"

MEREKA AKAN BERBALIK MELARIKAN DIRI



Begitulah sunnah kehidupan yang telah Allah subhanahu wata'ala tetapkan. Pada akhirnya, bila orang-orang kafir memerangi kita, maka mereka akan berbalik melarikan diri.

Sabtu, 26 Mei 2018

APA BUKTI PETUNJUK KEMENANGAN DARI-NYA?



Kita selalu memerlukan petunjuk Allah. Dalam semua episode kehidupan. Lebih-lebih lagi dalam episode perjuangan.

Kamis, 03 Mei 2018

ALLAH MERIDHAI KITA KETIKA...


Ridha Allah adalah tujuan kita semua, di setiap ruang dan waktu. Sebab dengan ridha-Nya, akan terlimpahkan kepada kita anugerah yang penuh berkah di dunia. Begitupun dengan ridha-Nya, akan terbukakan bagi kita pintu-pintu surga-Nya. Sungguh amalan saja tak cukup, mesti amalan yang membuat Allah ridha atas kita.

Rabu, 02 Mei 2018

KAPAN KITA BERHENTI DAN BOLEH TAK IKUT?


Rasulullah kembali diperintah untuk menyampaikan kepada orang-orang Arab Badui yang sebelumnya tak ikut. "Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu harus memerangi mereka kecuali mereka menyerah. Jika kamu patuhi (ajakan itu), Allah akan memberimu pahala yang baik; tetapi jika kamu berpaling seperti yang kamu perbuat sebelumnya, Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih."

Selasa, 01 Mei 2018

MEREKA YANG 'SAKIT', TAPI KITA YANG DITUDUH 'SAKIT'


Lihat saja, begitu kita mau mengambil ghanimah-ghanimah, mereka pun hendak ikut. Padahal sebelum harta-harta itu statusnya belum ghanimah, dan umat masih harus menghadapi kafir Quraisy, mereka enggan ikut.

Senin, 30 April 2018

MEREKA YANG BERALASAN


Mereka yang beralasan, seperti orang-orang yang tak turut ke Hudaibiyah bersama Rasulullah. Bila dijumpai, maka alasannya klise. "Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami," begitu ujar mereka. Lalu di ujung alasan itu mereka tambahkan, "Maka mohonkanlah ampunan untuk kami."

Senin, 19 Maret 2018

JANJI KITA KEPADA DIRI SENDIRI



Setiap janji kita, hakikatnya pada diri sendiri. Sebab ditepati maupun diingkari, dampaknya bagi diri sendiri.

Kamis, 08 Maret 2018

AGAR TUMBUH KEBAIKAN



Rasulullah artinya utusan Allah. Diutus untuk apa?

Menyampaikan kabar dari Allah. Karena itu disebut pula Nabi. Kabar apa yang disampaikan?

NASIB MEREKA YANG TAK TURUT BERJUANG


Berjuang itu bukan kebutuhan komunal. Berjuang itu lebih sebagai kebutuhan individual. Setiap diri, perlu berjuang. Yang dengannya, akan mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan dari Allah subhanahu wata'ala. Adapun sebuah komunal jamaah (dengan segala nilai dan cita yang diusungnya), tak perlukan perjuangan kita. Turut berjuang atau tidaknya kita, yang akan memenangkan nilai dan cita komunal tetaplah Allah Pemilik segalanya.

KABAR ITU DATANG SETELAH PERJUANGAN



Kala kembali dari Hudaibiyyah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membacakan ayat yang baru diturunkan. Kata beliau, itulah ayat yang lebih dicintainya dari semua yang ada di bumi ini. Begitu cerita Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Senin, 05 Maret 2018

BUKAN SEKADAR KEMENANGAN, NAMUN PENGAMPUNAN



Sungguh kemenangan adalah dari Allah semata. Berapapun kontribusi kita, tetaplah yang akan memenangkan adalah Allah.

Kamis, 27 Juli 2017

(Kajian Hadits) INILAH RINGKASAN AGAMA


عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْب] .رواه البخاري ومسلم[

Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika ia buruk maka buruklah seluruh tubuh; ia adalah hati.” (Riwayat Bukhori dan Muslim)