Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2026

Inilah yang Ditaujihkan oleh Komisi Dakwah MUI Pusat kepada Kami...


Awal tahun 2026 kami berkesempatan silaturrahim dengan Pimpinan Komisi Dakwah MUI Pusat. Dalam suasana siang selepas shalat Jumat yang sejuk, karena hujan deras turun disekitar gedung MUI, kami diterima oleh KH. Saiful Bahri AR selaku Ketua Komisi Dakwah dan Buya Dr. Jaja Nur Jannah selaku Sekretaris Komisi Dakwah. Selain itu ada pula beberapa Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat, yaitu Dr. Agus Suprayogi, M.Si., H. Darmawan, M.Pd., serta Ustadz Ahmad Fauzan Amin, M.A.

Minggu, 05 Oktober 2025

Bagian Ketiga Surat Al Mursalat: Mereka Sulit Bayangkan Kiamat


Pada bagian ketiga ini, mari kita kembali mencermati ayat demi ayat dalam surat Al Mursalat. Setelah sebelumnya kita menghayati peringatan dari Allah yang diulang sebanyak 10 kali dalam surat ini. Kali ini kita kembali ke awal surat hingga pertengahannya, merasakan bahwa inilah penekanan dari Allah kepada orang-orang musyrik yang sulit meyakini janji-janji-Nya.

Senin, 15 September 2025

Bagian Kedua Surat Al Mursalat: Sepuluh Kali Peringatan-Nya


“Celakalah pada hari itu bagi mereka yang mendustakan kebenaran.” Begitulah peringatan Allah subhanahu wata’ala yang diulang 10 kali. Pada bagian kedua ini, kita akan menyeksamai 10 cuplikan kehidupan yang diakhiri dengan peringatan tersebut. Semuanya dalam rangka menegaskan sebagaimana ayat ke-7 bahwa, إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَوَٰقِعٌ “sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.”

Senin, 01 September 2025

Bagian Pertama Surat Al Mursalat: Ayat-Ayat Pembukanya dan Kalimat yang Berulang Padanya

 


Kita akan menyelami surat ke-77, yang diberi nama Al Mursalat. Artinya malaikat-malaikat yang diutus. Karakter surat ini ringkas dan keras. Inilah yang mestinya menarik perhatian kita untuk menyelaminya sedalam mungkin.

Pada bagian pertama ini, kita akan menyelami dua hal dari surat Al Mursalat. Pertama terkait ayat-ayat pembukanya. Kedua terkait kalimat yang berulang di dalamnya.

 

Kamis, 28 Agustus 2025

Iman Kita Melahirkan Rasa Aman Pada Sesama

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. ]رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ[

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabtu, 22 Juni 2024

Bilapun Berselisih, Jangan Sampai Berbantahan

 
 
Dalam berjama'ah, sangat mungkin muncul persoalan-persoalan. Termasuk persoalan yang membuat situasi dan kondisi tidak nyaman. Tetapi bila dicermati, persoalan-persoalan itu sebagian besarnya merupakan persoalan administratif-organisatoris yang berjangka. Sehingga bisa dievaluasi setiap putaran periode kepengurusan, atau bisa dievaluasi lima tahunan. Adapun yang langgeng itu dhawabith, ini yang mesti dijaga. Jadi kalau ada persoalan pada taraf administratif-organisatoris, sementara dhawabithnya (unsur yang mengikatnya) masih dijaga, maka InsyaAllah masih baik dan bisa diperbaiki.

Kamis, 25 April 2024

Yang Penting, Tetap Bersama Jama'ah Dakwah


Terkait jama'ah dakwah ini, seperti jawaban Kakek Rasulullah saat ditanya, "هل فعلا الكعبة لها رب يحميها؟" (Apakah Ka'bah memiliki Tuhan yang melindunginya?)

Rabu, 12 Mei 2021

Khutbah Idulfitri 1442 H : Merayakan Keimanan Kita dengan Memuliakan Warisan Anbiya’


 

 Khutbah Idulfitri 1442 H

Merayakan Keimanan Kita dengan Memuliakan Warisan Anbiya’

(Muhammad Irfan Abdul Aziz, Pengurus Pusat Himpunan Dai Muda Indonesia)

 

اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَر، لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَر، اللهُ أكْبَر وَلله الحَمْدُ.

الحَمْدُ للهِ مُعِزِّ الإسْلامِ بِنَصْرِهِ، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِهِ، وَمُصَرِّفُ الأُمُوْرِ بِأَمْرِهِ، وَمُدِيْمُ النِّعَمِ بِشُكْرِهِ، وَمُسْتَدْرِجُ الكَافِرِيْنَ بِمَكْرِهِ، الَّذِيْ قَدَّرَ الأَيَّامُ دَوْلاً بِعَدْلِهِ، وَجَعَلَ العَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنِ بِفَضْلِهِ، وَأَظْهَرَ دِيْنُهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ.
القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ فَلَا يُمَانَعُ، والظَّاهِرُ عَلَى خَلِيْفَتِهِ فَلَا يُنَازَعُ، والآمِرُ بِمَا يَشَاءُ فَلَا يُرَاجَعُ، وَالحَاكِمُ بِمَا يُرِيْدُ فَلَا يُدَافَعُ.

أشْهَدُ أنْ لَّا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الأحَدُ الصَّمَد، الَّذِيْ لَمْ يَلِد، وَلَمْ يُوْلَد، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَد.
أشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، أَوَّلَ الخَلْقِ، وَ حَبِيْبُ الحَقِّ، سَيِّدِ المُرَبِّيْن، وَإِمَامُ المجُاَهِدِيْن، وَالمبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن.
اللَّهُمَّ صَلِّي وَسَلِّم وَبَارِك عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أُمَنَاءُ دَعْوَتِهِ، وَقَادَةُ أَلْوِيَتِهِ، وَارْضَ عَنَّا وَعَنْهُمْ يَا رَبَّ العَالَمِيْن.

اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
وقَالَ اللهُ تَعَالَى أيضا: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

 

Rabu, 17 Februari 2021

SEMANGAT BELAJAR DI MASA PANDEMI: Kesungguhan Muncul Bila Ada Niat yang Benar

Semangat Belajar di Masa Pandemi

 

< I >

Kita lanjut. Kali ini lebih dalam lagi, tentang dasar wujudnya kesungguhan: itulah niat. Sejauh dan setinggi niat kita, maka sejauh dan setinggi itu pula napas kesungguhan kita. Sebenar niat kita, sebaik itu pula kesungguhan kita. Maka, sekarang kita renungkan perkara niat ini. Niat dalam belajar bagi murid, niat dalam menyekolahkan anak bagi orang tua atau wali murid, dan niat dalam mengajar bagi guru.

Mari kita sederhanakan pembahasannya pada dua hal: hal yang penting menjadi niat kita dan tanda kebenaran niat kita. Syeikh Az Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim setidaknya membimbing kita untuk menjaga dua niat ini: Niat untuk mendapatkan Ridha Allah dan Niat untuk Bersyukur kepada Allah. Adapun kualitas niatnya, beliau juga menyampaikan, bahwa itu dapat diidentifikasi melalui tampilan diri yang tampak. Dalam hal ini tentunya tampilan yang tampak pada diri seorang murid.

 dasar wujudnya kesungguhan: itulah niat

Selasa, 16 Februari 2021

SEMANGAT BELAJAR DI MASA PANDEMI: Semangat Muncul Bila Ada Kesungguhan

Semangat Belajar di Masa Pandemi

 

< I >

Mari kita lanjutkan perbincangan tentang semangat belajar di masa pandemi. Bahwa semangat yang terkait suasana hati itu, hanya akan muncul bila ada kesungguhan. Maka, sekarang kita bincangkan tentang kesungguhan. Kesungguhan seperti apa yang diperlukan? Kesungguhan pada siapa saja yang dikehendaki?

Baiklah. Kita coba seksamai dahulu penggalan kalimat dalam kitab Ta’lim Muta’allim. “Dengan kadar kesulitan usahamu, kamu akan mendapatkan apa yang kamu dambakan. Dikatakan, dalam belajar dan memperdalam ilmu itu diperlukan kesungguhan dari tiga orang: penuntut ilmu (murid), ustadz (guru), dan ayah bila masih hidup.”

Apa yang menghenyakkan kesadaran kita dari penggalan kalimat itu? Syeikh Az Zarnuji hendak membangunkan kesadaran itu. Rupanya, dalam belajar tak cukup kesungguhan seorang murid. Perlu kesungguhan guru, bahkan perlu kesungguhan ayah bila masih hidup. Tapi menurut saya, sosok ayah adalah simbolis dari orang tua maupun wali. Artinya, tanggungjawab kesungguhan itu bukan hanya pada ayah, tapi juga pada ibunya maupun wali di sekitarnya. Sehingga, bila pun ayah telah tiada, maka pendidikan anak perlu kesungguhan ibunya ataupun walinya.

Rupanya, dalam belajar tak cukup kesungguhan seorang murid. Perlu kesungguhan guru, bahkan perlu kesungguhan ayah bila masih hidup.

 

Senin, 15 Februari 2021

SEMANGAT BELAJAR DI MASA PANDEMI: Sebuah Prolog

Semangat Belajar di Masa Pandemi

 

< I >

Sebelum kita menyelami tema kita kali ini, alangkah baiknya kita telisik dahulu makna demi makna kata-kata yang menyusun tema ini; Semangat – Belajar – di Masa – Pandemi. Semangat itu artinya kekuatan dan suasana batin, perasaan hati, atau kemauan dan gairah. Belajar itu artinya usaha memperoleh ilmu, atau mengubah tingkah laku dengan pengalaman. Masa itu artinya jangka waktu yang agak lama, atau terjadinya suatu peristiwa penting, yang ada permulaan dan batasnya. Pandemi itu artinya wabah yang berjangkit serempak di mana-mana.

Dari pemaknaan itu maka kita dapat mendapatkan pemahaman awal bahwa semangat itu terkait hati dan belajar itu terkait ilmu yang mengubah tingkah laku berdasarkan pengalaman. Maka kita perlu bersyukur pula, bahwa dengan Pandemi ini sesungguhnya ada pengalaman yang Allah siapkan untuk anak-anak kita. Pengalaman yang tak didapati oleh generasi sebelumnya, dan tentu ada maksud dari Allah yang mungkin belum kita pahami hari ini. Kita juga mendapatkan pemahaman bahwa ketika pandemi ini disebut masa, maka sesungguhnya rentangnya memang akan agak lama bahkan belum terkirakan. Sehingga, sekilas pembahasan kita ini memang meminta kepada kita masing-masing untuk menyiapkan suasana hati kita untuk rentang yang memang agak lama. Maka jangan dianggap pandemi ini akan berakhir dalam satu atau dua bulan, atau dalam satu – dua semester, bahkan satu atau dua tahun. Meskipun kita berharap sesegera mungkin berakhir. Namun tanamkan pemahaman dalam diri kita, bahwa pandemi ini memang suatu masa yang jangka waktunya agak lama. Agar kita tidak kehabisan semangat di tengah perjalanan. Agar sedari awal kita memang mempersiapkan semangat kita untuk rentang yang lama itu. Anggap saja lebih dari setahun.

 

Tanamkan pemahaman dalam diri kita, bahwa pandemi ini memang suatu masa yang jangka waktunya agak lama. Agar kita tidak kehabisan semangat di tengah perjalanan. Agar sedari awal kita memang mempersiapkan semangat kita untuk rentang yang lama itu.

Senin, 28 Mei 2018

MENAHAN DIRI AGAR KITA TIDAK DITIMPA KESULITAN



Ketika Rasulullah dan kaum muslimin sampai di Zul Hulaifah dengan membawa 70 unta untuk qurban, berujarlah Umar bin Khaththab. "Wahai Nabi Allah, apakah engkau akan memasuki tempat suatu kaum yang bermusuhan denganmu tanpa membawa senjata dan tanpa membawa pasukan?"

MEREKA AKAN BERBALIK MELARIKAN DIRI



Begitulah sunnah kehidupan yang telah Allah subhanahu wata'ala tetapkan. Pada akhirnya, bila orang-orang kafir memerangi kita, maka mereka akan berbalik melarikan diri.

Sabtu, 26 Mei 2018

APA BUKTI PETUNJUK KEMENANGAN DARI-NYA?



Kita selalu memerlukan petunjuk Allah. Dalam semua episode kehidupan. Lebih-lebih lagi dalam episode perjuangan.

Kamis, 03 Mei 2018

ALLAH MERIDHAI KITA KETIKA...


Ridha Allah adalah tujuan kita semua, di setiap ruang dan waktu. Sebab dengan ridha-Nya, akan terlimpahkan kepada kita anugerah yang penuh berkah di dunia. Begitupun dengan ridha-Nya, akan terbukakan bagi kita pintu-pintu surga-Nya. Sungguh amalan saja tak cukup, mesti amalan yang membuat Allah ridha atas kita.

Rabu, 02 Mei 2018

KAPAN KITA BERHENTI DAN BOLEH TAK IKUT?


Rasulullah kembali diperintah untuk menyampaikan kepada orang-orang Arab Badui yang sebelumnya tak ikut. "Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu harus memerangi mereka kecuali mereka menyerah. Jika kamu patuhi (ajakan itu), Allah akan memberimu pahala yang baik; tetapi jika kamu berpaling seperti yang kamu perbuat sebelumnya, Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih."

Selasa, 01 Mei 2018

MEREKA YANG 'SAKIT', TAPI KITA YANG DITUDUH 'SAKIT'


Lihat saja, begitu kita mau mengambil ghanimah-ghanimah, mereka pun hendak ikut. Padahal sebelum harta-harta itu statusnya belum ghanimah, dan umat masih harus menghadapi kafir Quraisy, mereka enggan ikut.

Senin, 30 April 2018

MEREKA YANG BERALASAN


Mereka yang beralasan, seperti orang-orang yang tak turut ke Hudaibiyah bersama Rasulullah. Bila dijumpai, maka alasannya klise. "Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami," begitu ujar mereka. Lalu di ujung alasan itu mereka tambahkan, "Maka mohonkanlah ampunan untuk kami."

Senin, 19 Maret 2018

JANJI KITA KEPADA DIRI SENDIRI



Setiap janji kita, hakikatnya pada diri sendiri. Sebab ditepati maupun diingkari, dampaknya bagi diri sendiri.

Kamis, 08 Maret 2018

AGAR TUMBUH KEBAIKAN



Rasulullah artinya utusan Allah. Diutus untuk apa?

Menyampaikan kabar dari Allah. Karena itu disebut pula Nabi. Kabar apa yang disampaikan?