Rabu, 09 Maret 2016

[Pelajaran II] JANGAN MENULIS YANG TIDAK KITA LIHAT


“Jika kita harus menulis sejarah, wahai al Qadhil Fadhil. Jangan menulis yang tidak kita lihat. Kita bertanggungjawab atas tulisan itu.” Demikian pesan Shalahuddin Al Ayyubi kepada al Qadhil Fadhil yang akan menuliskan sejarah kepemimpinannya.


Sekilas pesan itu sederhana dan apa adanya. Memang sewajarnyalah tidak menuliskan yang tak dilihat. Memang sepantasnyalah tidak menuliskan yang tak diketahui. Sebab tulisan bagian dari ucapan, yang harus dipertanggungjawaban kebenarannya.

Namun pesan itu menjadi istimewa, saat keluar dari lisan Shalahuddin Al Ayyubi kepada al Qadhil Fadhil. Shalahuddin Al Ayyubi adalah Sultan, sementara al Qadhil Fadhil adalah Juru Tulis-nya yang kredibel. Masih perlukah pesan itu?

Shalahuddin Al Ayyubi memanglah sosok pemimpin yang mungkin asing bagi zaman kita hari ini. Sekarang dalam dunia ‘pencitraan’, para pemimpin justru meminta-minta dituliskan biografinya. Namun Shalahuddin Al Ayyubi, saat Juru Tulis-nya hendak menuliskan perjalanan kepemimpinannya, justru enggan meresponnya. Bahkan ketika akhirnya ia respon, maka pesan ‘wanti-wanti’ itulah yang ia sampaikan pertama.

Sungguh pesan itu penegasan bagi al Qadhil Fadhil, bukan sebagai kesangsian Shalahuddin al Ayyubi pada al Qadhil Fadhil. Sebab al Qadhil Fadhil bukanlah orang yang tak dikenal, melainkan Juru Tulis yang telah mendampinginya sepanjang kepemimpinan. Sementara para pemimpin saat ini, selain mencari sembarang Juru Tulis, pun luput mengingatkan untuk tak menulis yang tak diketahui. Bahkan, ianya sendiri yang ingin dituliskan dengan sesuatu yang tak sebenarnya.

Al Qadhil Fadhil adalah orang dekatnya Shalahuddin al Ayyubi. Penasehat sekaligus Juru Tulis-nya; sudah lama bersamanya. Namun Shalahuddin masih merasa perlu untuk mengingatkannya agar tidak menuliskan sesuatu yang tak ada pada diri Shalahuddin Al Ayyubi. Mungkin sosok seperti inilah yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ke-54 dari surat al Baqarah, “Beberapa sifat orang-orang beriman yang sempurna yaitu hendaklah salah seorang dari mereka bersikap rendah hati kepada saudara dan orang dekatnya, namun terlihat gagah di hadapan lawannya.

Shalahuddin Al Ayyubi memang Sultan yang gagah di medan perang, melawan segala lawan bagi agama dan ummat ini. Namun, rupanya ia adalah sosok yang rendah hati kepada saudara dan orang dekatnya, termasuk kepada al Qadhil Fadhil yang telah membersamainya sepanjang perjalanan kepemimpinannya.

Itulah di antara keteladanan Shalahuddin Al Ayyubi. Sebagaimana menurut kitab Sirah An Nashir Sholahuddin, disebutkan bahwa salah satu karakter Shalahuddin adalah menjaga muru’ah; yaitu menjaga akhlak yang mulia, adab yang baik dan sifat ksatria yang sempurna.

Kata Ibnul Qayyim, bahwa hakekat muru’ah adalah menghindari berbagai ucapan, perbuatan dan akhlak rendah yang tak pantas. Lalu beliau memberikan salah satu contohnya yaitu muru’ah lidah; berupa manisnya, baiknya, dan halusnya kata-kata serta dapat dipetik buahnya dengan gampang dan mudah.

Maka mencukupkan menulis yang dilihat dan diketahui adalah bagian muru’ah tersebut. Sehingga Shalahuddin Al Ayyubi tak ingin terjatuh pada ketidak-pantasan dituliskan yang tak ada padanya.

Ada satu episode dalam kehidupan Shalahuddin Al Ayyubi yang perlu kita seksamai saat ini, yaitu ketika beliau menulis surat kepada Al ‘Adil sebagai wakilnya di Mesir. Saat itu beliau harus berkirim pesan surat, sebab kondisi Mesir sedang bergejolak dengan provokasi fanatisme antar kelompok. Di ujung suratnya itu beliau mengguratkan penanya, “Hendaklah seorang hamba menyadari, bahwa dia menulis sebuah surat kepada Tuhan-nya, maka hendaklah ia memikirkan tentang apa yang dia tulis dan kepada siapa ia menulis.

Itulah sepenuh kesadaran Shalahuddin Al Ayyubi sebagai makhluk-Nya. Bahwa surat yang beliau tulis, semata-mata merupakan pengabdian kepada Rabb semesta, bukan sekadar hubungan sesama maupun hubungan pemimpin dengan wakilnya. Karenanya, pertanggungjawaban ada kepada Allah subhanahu wata’ala.

Maka, jangan menulis yang tidak kita lihat! Begitu nasehat Shalahuddin Al Ayyubi untuk Al Qadhil Fadhil, juga dapat pula bagi kita semua. Sosok pemimpin bersahaja itu, tak mau larut dengan tipu daya publisitas. Apapun bentuknya, bahkan di saat ia telah tuntas memimpin dan layak mendapat aneka pujian. Begitulah Shalahuddin Al Ayyubi.[]


Rabu, 9 Maret 2016
Muhammad Irfan Abdul Aziz

Tidak ada komentar: