Selasa, 01 Maret 2016

DIASPORA DAKWAH DI AMERIKA SERIKAT DAN EROPA


Dakwah pasca runtuhnya Khilafah Utsmani (1924) sesungguhnya tidaklah padam. Sebab dakwah ini milik Allah azza wa jalla. Maka Allah Yang Maha Kuasa, tentu sangat kuasa menetapkan eksistensi dakwah di buminya manapun dan kapanpun. Di antara yang menarik adalah di Amerika Serikat dan Eropa. Sebab keduanya mulanya sebagai sumber keruntuhan masyarakat Islami, namun dengan segala kerusakan tatanan sosialnya ternyata justru menjadi peluang bagi Islam untuk memberikan terapinya. Dalam sektor apapun, dan itulah yang telah dilakukan oleh aktivis dakwah dari Timur Tengah, khususnya dari Mesir.

Sebab, dalam kondisi negara-negara Islam yang dibuat berkecamuk oleh Barat dengan Perang Dunia-nya, maka hukum alam telah menetapkan bahwa siapa yang melakukan keonaran maka ialah yang seharusnya menanggung dampaknya. Begitupun Barat, merekalah yang akhirnya menanggung dampak pengungsi sosial maupun suaka politik dari negara-negara berkecamuk. Setidaknya menjadi tujuan belajar bagi aktivis dakwah yang negaranya tidak kondusif.

Itulah yang akhirnya terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Berapa banyak komunitas Muslim yang tumbuh di Amerika Serikat dan Eropa, saat tatanan sosialnya tercerabut hingga ke akar-akar keluarganya? Berapa banyak sosok-sosok Muslim yang akhirnya tampil sebagai inspirasi di Amerika Serikat dan Eropa, saat tokoh-tokohnya telah kehilangan kredibilitasnya? Berapa banyak konsep-konsep hukum Islam yang diadopsi di Amerika Serikat dan Eropa, saat kebebasan yang disuarakan oleh konstitusinya justru melumat tatanan negaranya sendiri?

Secara sederhana, kita bisa menengok beberapa peran awal para diaspora aktivis dakwah di Amerika Serikat maupun Eropa sebagai berikut:

Amerika Serikat

Di negara Adidaya ini, yang semakin Adidaya saat Uni Soviet runtuh pasca perang melawan Afghanistan, justru menjadi rumah bagi tumbuhnya aktivis dakwah. Para aktivis dakwah bersama Ismail Raji Faruqi dan kawan-kawannya mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada 1981 M atau bertepatan tahun 1401 H, sebagai lembaga pemikiran Islam yang moderat. Berpusat di Herndon (Virginia, tepi kota Washington DC), lembaga ini terus aktif bekerja pada isu-isu Pendidikan, Akademik dan Sosial dari perspektif Islam untuk mempromosikan dan mendukung proyek-proyek penelitian, mengatur pertemuan intelektual dan budaya, mempublikasikan karya-karya ilmiah, serta terlibat dalam pengajaran dan pelatihan. Lembaga ini telah melibatkan sejumlah besar Peneliti dan Akademisi dari berbagai belahan dunia.

Beragam program telah digulirkan untuk menjembatani kesenjangan intelektual antara tradisi Islam dan peradaban Barat. Begitupun moderasi dialog antar agama dan kewarganegaraan telah digelar secara berkala. Dari lembaga ini pula, arus pemikiran Ekonomi Syariah mulai bergulir.

Eropa

Sementara di Eropa, para aktivis dakwah di kalangan intelektual juga mulai mengenalkan Islam dengan konsep Euro-Islam. Yaitu Islam yang bertolak dari keselarasan pada prinsip-prinsip kemanusiaan Eropa. Tidak hanya merebak dalam konteks pemikiran, juga mulai menggeluti aspek Ekonomi. Mengingat di kalangan aktivis Islam telah terjadi penguatan dalam bisnis, maka sedikit-banyak mereka harus memikirkan pengelolaan uang dalam sistem Islam yang sangat mewanti-wanti perkara Riba.

Akhirnya dengan inisiatif Jamaluddin Attiyah (Bankir Profesional) dan Yusuf Nada (Pengusaha Sukses), para aktivis Islam di Eropa mulai mendirikan International Islamic Bank of Investment and Development (IIBID) di Lugano – Swiss, pada tahun 1977. Tentu bukan merupakan usaha yang mudah, dengan investasi awal pendiriannya sebesar 100 juta US Dollar. Dana investasi itu dihimpun dengan partisipasi Al Baraka Group (Arab Saudi), Tadhamun Islamic Bank (Sudan), Kementerian Wakaf Abu Dhabi (UEA), Kementerian Wakaf Kuwait dan Kementerian Keuangan Kuwait.

Epilog

Demikianlah perkembangan dakwah dan aktivisnya di Amerika Serikat dan Eropa. Tidak bisa dipandang sebelah mata; bahwa merekalah yang telah berperan mengembalikan tatanan sosial masyarakat Amerika Serikat dan Eropa, bahwa merekalah yang telah hadir dengan kredibilitasnya di tengah-tengah masyarakat Amerika Serikat dan Eropa, bahwa merekalah yang telah berusaha menyelamatkan tatanan negara Amerika Serikat dan Eropa dari pelumatan ideologi kebebasan.

Maka, dialog terkait Amerika Serikat dan Eropa, tidak pernah lepas dari peran para aktivis Islam di sana. Sampai kapanpun. Sebab memang demikianlah faktanya; inilah peradaban aktivis Islam di jantung peradaban Barat!


Sementara peradaban Barat telah tampil dengan ketidak-beradaban di jantung negara-negara Islam. Jika demikian, siapa yang membangun dan siapa yang merusak?


#SerialDakwahKultural _ 1 Maret 2016

Tidak ada komentar: