Selasa, 07 Juni 2016

MENYAPA MASYARAKAT DENGAN ILMU (2)

sumber: clipartpanda.com

"Para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambil ilmu tersebut, maka ia telah mendapatkan bagian yang amat berlimpah." Itu adalah sabda Rasulullah, beredar di banyak kitab Ilmu; dalam Sunan Abu Dawud, Sunan At Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah.

Demikianlah warisan satu-satunya dari para Nabi. Lalu Ibnu Taimiyah membagi warisan itu menjadi tiga; Ilmu tentang Allah, Ilmu tentang kabar dari Allah, dan Ilmu tentang perintah dari Allah.

Yang pertama contohnya surat Al Ikhlas dan ayat kursi. Yang kedua contohnya kisah-kisah dan janji-ancaman. Yang ketiga contohnya ayat-ayat hukum syariat dan fiqh.

Lalu dalam Fatwa-Fatwa Ibnu Taimiyah, secara konteks beragama maka ilmu-ilmu tersebut setidaknya ada lima macam. Yang merupakan Kehidupan Agama (Ilmu Tauhid), yang merupakan Makanan Agama (Ilmu Makna Al Quran dan Hadits), yang merupakan Obat Agama (Ilmu Fatwa), yang merupakan Penyakit Agama (Ilmu yang Bid'ah), dan yang merupakan Kebinasaan Agama (Ilmu Sihir).

Berilmunya kita dengan pengakuan hati. Maka bila tanpa pengakuan hati, belumlah kita terilmui. Berilmunya kita adalah mencari tahu yang seharusnya diketahui. Maka bila mencari tahu yang tak seharusnya diketahui, belumlah kita terilmui. Berilmunya kita dengan mengamalkan. Maka bila tiada mengamalkan, belumlah kita terilmui.

Para Ahli Tafsir, di antaranya adalah Ibnu Katsir, Imam al Baghawi, dan Abdurrahman bin Nasiruddin as Sa'di; mengungkap dua pembanding ketika menafsir ayat ke 159 dari surat Al Baqarah. Pembanding itu; bila menyembunyikan ilmu akan dilaknati makhluk-makhluk-Nya, maka menyampaikan ilmu akan dimintakan rahmat ampunan oleh makhluk-makhluk-Nya. Tentu bagi seorang muslim nan Da'i, pilihannya hanyalah menyampaikan ilmu.

Suatu ketika seorang Syeikh bernama Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran menyampaikan definisinya tentang ilmu; yaitu menghafal, mengamalkan, mendengar, menyimak, serta menyebar-luaskan. Lalu Syeikh yang lahir tahun 107 H ini memberikan gambaran terkait orang bodoh dan orang pintar.

"Manusia yang paling bodoh adalah mereka yang tidak melakukan apa yang telah mereka ketahui. Manusia yang paling pintar adalah mereka yang mengamalkan apa yang mereka ketahui," ujarnya. Kemudian lanjutnya, "Dan manusia yang paling baik adalah mereka yang paling takut kepada Allah."

Maka menyapa masyarakat dengan ilmu adalah menyapa dengan sepenuh keyakinan hati, dengan hal-hal yang semestinya kita ketahui, serta dengan amal-amal produk dari ilmu kita. Termasuk pula menyapa masyarakat dengan ilmu bila kita berkenan mendengar dan menyimak; karena itulah esensi insan berilmu. Dan pastinya menyapa masyarakat dengan ilmu bila kita telah menyatu bersama masyarakat, tiada lagi ilmu yang tersembunyikan, menjadi solusi jawaban bagi setiap persoalan masyarakat.

Semoga Allah mudahkan kita untuk menyapa masyarakat dengan ilmu. Aamiin.



Muhammad Irfan Abdul Aziz
2 Ramadhan 1437 H

Twitter: @Daybakh
BBM PIN: 56C730A3
Channel Telegram: @MadrasahRamadhan

2 komentar:

koko nata mengatakan...

Semoga kita juga bisa meneruskan ilmu yang bermanfaat itu untuk anak-cucu kita

Irfan Azizi mengatakan...

Makasih, bang... Dah mampir :)