Selasa, 21 Juni 2016

MATANGNYA KEPRIBADIAN DA'I DI SETIAP TINDAKAN (2)


Di antara karakter jihad Rasulullah adalah tidak memulai peperangan kecuali telah tiba shubuh sehingga telah tampak semuanya dengan jelas. Pun beliau akan mencermati suara adzan di daerah penyerangan tersebut; bila ada adzan terdengar maka batal penyerangan, namun bila tiada terdengar adzan maka lanjut penyerangan. Demikian yang disampaikan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.


Maka tidak heran bila Rasulullah begitu kecewa kepada Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu sepulang dari penyerangan daerah al Hirqah. Sampai-sampai beliau mengulangi sebuah pertanyaan sebanyak tiga kali, "Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah?"

Sungguh pertanyaan yang sulit dijawab oleh Usamah, sampai ia sempat berharap hari itu baru masuk Islam sehingga ia mendapat pemakluman. Pasalnya, memang ia telah membunuh seorang yang tersaksi bersyahadat di depan tombaknya.

Kala itu serangan ba'da Shubuh pasukan muslim di daerah al Hirqah terbilang berhasil mengoyak kekuatan lawan. Hingga Usamah dan seorang Anshar yang membersamainya mendapati seorang tentara musuh yang berusaha lari. Dikejarlah orang itu. Tapi ketika mereka sudah saling berhadapan, musuh itu mengucapkan syahadat. Sementara Usamah yang telah siap dengan tombaknya tetap menusukkan ke tubuh orang tersebut.

Hal inilah yang tidak bisa diterima oleh Rasulullah. Meski Usamah beralasan, "Wahai Rasulullah, lelaki itu mengucapkan demikian hanyalah untuk melindungi dirinya saja."

Tetap saja Rasulullah tidak bisa menerimanya. Maka beliau lontarkan pertanyaan tajam tersebut kepada Usamah, sebagai perenungan agar lebih hati-hati. Jangan bertindak sebelum segalanya tampak jelas. Kematangan pertimbangan, itulah yang dikehendaki oleh Rasulullah.

Memang begitu yang diarahkan Rasulullah. Makanya beliau selalu memerintahkan kepada seluruh pasukan muslim untuk memberikan 3 pilihan terlebih dahulu kepada musuh sebelum penyerangan. Pilihan pertama, Islam dan Hijrah atau Islam saja tanpa Hijrah kemudian mendapat perlakuan yang sama dengan muslim lainnya. Pilihan kedua, bila enggan berislam maka diajak untuk membayar jizyah (pajak). Pilihan ketiga, bila masih enggan dengan dua pilihan tersebut maka diperangi.

Bahkan ada ajaran tentang kematangan pribadi ini yang terdapat dalam kitab Masjid-Masjid pada Shahih Muslim. Yaitu sabdanya, "Apabila telah didirikan shalat (selesai iqamah) maka janganlah kalian berdiri sebelum kalian melihatku telah keluar (dari kamar untuk mengimami)." Hikmahnya memang menghindari kekecewaan karena menunggu lama dengan berdiri.

Atau ada hadits yang cukup akrab bagi kita, "Apabila telah dilaksanakan shalat, maka janganlah datang dengan berlari, akan tetapi datanglah dengan berjalan. Hendaklah kalian tenang. Apa yang kalian dapatkan, maka shalatlah. Dan apa yang kalian tidak sempat (dapatkan), maka sempurnakanlah." Itulah ketenangan pribadi yang matang.

Jauh sebelum Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, nabi Sulaiman alaihissalam telah tampil dengan kematangannya dalam bermuamalah terhadap beragam pihak. Salah satunya kepada para pasukannya. Lebih rinci lagi terhadap Hud Hud yang tak hadir dalam konsolidasinya tanpa izin. Bahwa beliau tidak mengeluarkan putusan akhir sebelum menyimak alasan yang jelas dari Hud Hud.

Demikianlah sejatinya Da'i, segala ucapannya dan tindakannya diawali dengan kemantapan pikirannya terlebih dahulu, sehingga tidak terjadi keraguan dan kebimbangan dalam dakwah yang disampaikannya. Maka Ibnu Hani' al Maghribi mengguratkan dalam syairnya, "Kemantapan sebuah pendapat adalah setelah berpikir panjang."

Tradisi tafakkur dan tadabbur adalah bagian dari melatih mekanisme berpikir panjang. Sejatinya, itulah yang membedakan aktivis dakwah dengan aktivis lainnya.



Muhammad Irfan Abdul Aziz
16 Ramadhan 1437 H

Twitter: @Daybakh
BBM PIN: 56C730A3
Channel Telegram: @MadrasahRamadhan


Tidak ada komentar: