Selasa, 15 November 2016

9 TANYA-JAWAB TENTANG CINTA DALAM DIAM

foto dokumen pribadi

Berikut adalah 9 tanya - jawab tentang Cinta dalam Diam yang merupakan kelanjutan dari materi Adakah Cinta dalam Diam? Semoga dapat memperkaya materi tersebut dan menjadi pemicu diskusi-diskusi selanjutnya.


1. Bagaimana sebaiknya seorang perempuan ketika memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis, sedang dia merasa belum siap untuk menikah?

Jawab
Pertanyaan sebaliknya adalah kenapa bisa ada kecenderungan terhadap lawan jenis sementara dia belum siap menikah?

Saya mencermati hal ini terjadi karena lingkungan yang tanpa batasan etis. Memang inilah problema sosial kita saat ini. Lawan jenis berbaur tanpa batas. Bila batasan sosial dijaga, maka tidak akan terjebak dalam fenomena ini.

Selanjutnya terkait dengan kesiapan perempuan, dalam proses menikah yang disiapkannya hanya terkait psikis. Psikis ini terkait aspek ilmiah dan ruhiyah. Sebab terkait materi dan kemampuan lainnya, itu adalah beban bagi laki-laki.

Nah, ketika ada kecenderungan namun tanpa diimbangi dengan kesiapan psikis, maka sesungguhnya itu disebabkan oleh timpangnya antara pergaulan dan pembinaan diri. Inilah yang banyak terjadi di kalangan pemuda saat ini. Secara sosial ada pendewasaan dini, namun secara psikis kedewasaannya tidak berkembang. Sehingga banyak anak muda yang berani mengeksplorasi lingkungan namun tidak diimbangi dengan jiwa tanggungjawab yang mumpuni.

Maka tidak heran, bila kini banyak konflik di kalangan pemuda. Karena berani bertindak namun tidak diimbangi daya tanggungjawabnya.

Saran saya, bila hal ini yang dirasa, maka cobalah mencermati gaya pergaulan kita. Bila melewati batas etika, segeralah membenahi diri. Kalau tidak, maka tak heran bila terjebak pada dilema; kecenderungan datang lebih dahulu, sementara kesiapan belum dimiliki.

Prinsipnya sederhana. Langkah pertama adalah membenahi kepribadian diri yang islami. Langkah kedua adalah membentuk keluarga muslim. Langkah ketiga membenahi masyarakat islami. Jadi jangan lompat, dan tak berurutan.


2. Menurut pandangan saya dari penjabaran materi ustadz Irfan, yang bergerak aktif dalam menjemput cinta atau jodoh adalah laki-laki ya? Lantas bagaimana tindakan si akhwat untuk merespon atau mengungkapkan perasaan cinta kepada kekasihnya atau orang yang dicintainya? Apa hanya berdoa dan berharap berserah kepada-Nya? Atau pasrah menerima kalau ada laki-laki yang melamar?

Jawab
Mohon kembali dicermati materi saya bagian ketiga. Saya memberi tiga contoh. Yang pertama tentang bagaimana Muhammad melamar Khadijah yang diawali oleh inisiatif Khadijah menyampaikan ketertarikannya kepada Muhammad melalui Maisarah. Jadi, keduanya sama-sama punya peluang untuk bergerak aktif. Asal tetap dengan etika: dengan perantara dan memegang prinsip musyawarah. Itulah yang telah diteladankan oleh Muhammad dan Khadijah.

Lalu terkait akhwat untuk merespon atau mengungkapkan perasaan, saya telah berikan contoh ketiga, tentang muslimah Madinah yang menolak Salman Al Farisi lalu mengungkapkan perasaan cintanya kepada Abu Darda yang mengantarnya. Tapi tetap dengan etika, yaitu perantara. Ibunya yang menyampaikan. Etika-etika seperti inilah yang kini mulai hilang di kalangan pemuda kita.

Jadi, dari semua pemaparan saya, telah tegas menafikan cinta dalam diam. Bahwa cinta yang tidak terbelah harus memenuhi dimensi pikiran, hati dan tindakan. Jadi tidak ada cinta dalam diam. Atau sebaliknya, bila masih diam maka itu bukan cinta. Tetapi bagaimana menyampaikannya itulah yang harus diperhatikan, yaitu dengan perantara. Seperti Salman Al Farisi minta diperantarai oleh Abu Darda. Selain etika penyampaian, perlu juga disiapkan mental bahwa proses itu belum final kecuali telah aqad. Karena itu, ketika Salman ditolak, tak jadi masalah baginya. Ketika Abu Bakar dan Umar ditolak oleh Rasulullah, juga tak jadi masalah.

Kenapa demikian? Karena mereka memang tidak menyemai penyakit cinta. Poin pentingnya, bahwa penyakit cinta akan tumbuh ketika kita mulai mematok calon jodoh kita. Inilah problem mendasar muda-mudi kita saat ini.


3. Jika tidak ada istilah cinta dalam diam (seperti pemaparan teori tadi), lalu bagaimana menyikapinya kalau kita diam-diam suka atau mencintai seseorang? Bagaimana cara mengalihkan perasaan tersebut, terutama bagi yang belum siap menikah?

Jawab
Kalau yang terjadi, diam-diam suka, maka ada keterbelahan dalam pribadinya. Sebab seorang muslim adalah sosok yang bisa menyeimbangkan rasa dan realita. Maka ada yang salah dalam kehidupannya, sehingga rasa lebih dominan daripada realita. Ataupun sebaliknya.

Solusinya, perbaiki gaya bergaul. Sebab perasaan itu adalah hasil dari asupan indera. Apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, apa yang kita kecap, dan apa yang kita raba.

Nah, silakan dicermati diri sendiri. Adakah yang salah dari konsumsi indera kita? Sehingga kita menjadi diam-diam mencintai? Mungkin memang karena kita terlalu intensif melihatnya, atau terlalu intensif mendengar tentangnya, dan sebagainya.


4. Apakah menikah itu perlu cinta? Apakah bisa kita menikah dengan orang yang tidak kita cintai? Bagaimanakah kira-kira kelangsungan ke depannya?

Jawab
Ya, menikah perlu cinta. Karena itulah muslimah Madinah yang saya ceritakan di poin ketiga bagian ketiga pemaparan saya, menolak Salman Al Farisi dan memilih Abu Darda yang mengantarnya. Karena dia mencintai Abu Darda. Begitupun Rasulullah menolak Abu Bakar dan Umar, karena tahu Fathimah mungkin lebih mencintai Ali bin Abi Thalib.

Namun... Bisa saja kita menikah dengan yang tidak dicintai. Tapi Islam tetap memberikan kemerdekaan bagi muslimah untuk menerima ataupun menolak. Jadi kalaupun harus menerima sosok yang tidak kita cintai, tetap pastikan bahwa kita menerima karena kesadaran diri bukan karena keterpaksaan.

Persoalan kelangsungan ke depan, yang harus kita pahami adalah bahwa cinta itu ditumbuhkan, bukan sesuatu yang sudah ada dalam diri. Kesalahan kita, memahami cinta sebagai sesuatu yang sudah ada dalam diri. Sehingga menganggap tidak mungkin mencintai selainnya, inilah sumber penyakit cinta. Semua yang jumud dalam kehidupan ini memang rawan menjadi kubangan penyakit.

Nah, bila kita memahami cinta sebagai sesuatu yang ditumbuhkan, maka masa depan menikah dengan yang tidak dicintai tak perlu dikhawatirkan. Sebab saat aqad itulah mulai ditumbuhkan cinta, dan terus bertumbuh selanjutnya.


5. Bagaimana hukumnya mengenal jika kita mencari jodoh lewat sosial media? Boleh atau tidak? Apa yang harus kita lakukan agar tidak salah dan tidak terkesan seperti main-main?

Jawab
Interaksi sosial memiliki hukum dasar boleh. Dengan sarana apapun. Namun hukum itu bisa berubah menjadi haram, sesuai dengan dampaknya.

Bila mengenal dan mencari jodoh melalui media sosial berdampak fitnah (berupa penyakit cinta dan konflik sosial), maka hukumnya menjadi haram. Karena meninggalkan kemudharatan lebih didahulukan daripada melakukan kebaikan. Menikah adalah kebaikan, namun bila prosesnya justru menciptakan kemudharatan maka meninggalkan proses itu harus didahulukan meskipun berakibat tertundanya pernikahan.

Sekali lagi, cinta memiliki tarikan perasaan yang sangat kuat. Sehingga sangat rawan lepas kontrol, dan riskan terjebak dalam hal-hal yang tidak baik. Karena itulah dalam perkara cinta, etika yang dijaga oleh para salaf ash shalih adalah dengan perantara. Perantara ini berupa orang lain yang dapat dipercaya dan jauh lebih matang kepribadiannya.

Maka saran saya, jangan mencari melalui media sosial. Jangankan perkara cinta yang terpendam dalam rasa, perkara berita yang tampak dalam realita saja ketika kita mencarinya di media sosial akan bertemu banyak hoax yang penuh kemudharatan.


6. Sejauh mana cinta dalam diam itu dapat dilakukan, seberapa lama cinta dalam diam itu akan ada?

Jawab
Tidak ada. Seorang muslim tidak sepantasnya memiliki cinta dalam diam. Sebab cinta dalam diam hanya akan menumbuhkan penyakit cinta. Semua yang jumud dan lama teronggok, akan menjamur. Selain juga, diam meskipun indikasi selemah-lemahnya iman, sesungguhnya itu gejala terbelahnya kepribadian. Maka cinta dalam diam adalah cinta yang terbelah, tak utuh.

Hendaknya seorang muslim bila mencintai maka mengungkapkannya. Bila cinta itu kepada lawan jenis, maka sampaikan dengan perantara. Tapi dengan perspektif bahwa kita tidak pernah tahu akan ketetapan Allah dan meyakini bahwa kehendak Allah semuanya baik bagi kita. Maka ketika cinta yang kita ungkapkan itu ditolak, tak ada rasa sakit dan kita akan menerima dengan sepenuh ridha akan taqdirNya. Inilah kepribadian Muslim, dan beginilah cinta yang lahir dari kepribadian muslim.

Ingat! Di antara faktor tumbuhnya penyakit cinta adalah ketika kita mulai mematok cinta. Dan itu bukan bagian dari kepribadian muslim. Ungkapan cinta kita bukan ungkapan kepemilikan atau mengapling objek cinta, tapi itu bagian dari ikhtiar menuju pernikahan.

Terkait hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Silakan kembali mencermati pemaparan saya di bagian ketiga.


7. Tentang tema tadi. Sudah hampir 6 tahun kagum dengan pribadinya, waktu MTs pernah iseng bilang idola ke dia. Tapi dia kurang senang dengan hal seperti itu, jadi saya diam dan sudah tidak pernah mengutarakan perasaan yang sebenarnya karena lebih untuk menjaga terjalinnya komunikasi yang baik. Apakah menunggu adalah saran yang baik atau mengikhlaskan?

Jawab
Jangan menunggu, sampaikan melalui perantara. Bila direspon maka segera lanjut ke proses lamaran dan aqad. Bila ditolak, maka selesai. Jangan pernah mengapling jodoh sebelum aqad berlangsung. Seakan-akan dia milik kita. Sebelum aqad, kita tidak punya kuasa atasnya, ia hanya milik Allah yang bisa diserahkan kepada siapa saja.

Maka istilah mengikhlaskan juga tidak tepat. Mengikhlaskan untuk apa? Kan dia juga bukan punya kita? Apanya yang diikhlaskan? Jangan mendramatisir dengan istilah mengikhlaskan, seakan-akan dia sudah milik kita. Lamaran saja belum, aqad juga belum.

Jangan pernah menjadikan diri sok berkuasa atas orang lain. Lebih-lebih sok memiliki orang lain melebihi kuasa Allah atasnya. Ingat! Prinsip aqidah kita adalah membebaskan penghambaan kepada sesama menuju penghambaan kepada Allah semata. Kalau orang lain yang bukan siapa-siapanya kita sudah diklaim milik kita, apakah ini bukan penghambaan kepada sesama? Jika kita merasa lebih kuasa dari Allah, apakah itu bukan penghambaan kepada hawa nafsu diri sendiri?


8. Pertama, jika kita mencintai karena Allah, sudah ada rasa untuk menikah (untuk mengarah ke pernikahan), apakah yang harus kita lakukan? Kedua, cara muslimah mencintai dalam diam bagaimana? Ketiga, bagaimana kiat-kiat untuk menyampaikan maksud ke orang tua jika ingin menikah, tapi menjadi istri yang kedua?

Jawab
1. Jika laki-laki, maka datang ke walinya untuk melamar. Jika perempuan, maka minta tolong kepada orang yang dipercaya dan bijaksana untuk menyampaikan ke orang tersebut agar melamarnya.

2. Khadijah tidak mencontohkan dalam hal mencintai dalam diam. Beliau menyampaikan kecenderungannya kepada Muhammad melalui perantara Maisarah. Begitupun muslimah yang ingin dilamar oleh Salman Al Farisi juga menyampaikan bahwa cintanya bagi Abu Darda melalui perantara ibunya. Adapun Fathimah meskipun punya kecenderungan kepada Ali bin Abi Thalib, namun tidak pernah membangun cinta itu kecuali setelah Ali melamarnya.

3. Pertama, pahamkan kepada orang tua akan kebaikan di setiap ketetapan Allah, dan pernikahan apapun yang akhirnya berlangsung merupakan bagian dari ketetapan Allah. Kedua, pahamkan kepada orang tua, bahwa menjadi istri kedua itu bukan aib, berikan contoh dari generasi terdahulu yang mulia dan pengalaman orang-orang yang telah menjadi istri kedua. Ketiga, perlu dipahami bahwa memberikan pemahaman kepada orang lain itu membutuhkan proses, karena itu jangan tergesa-gesa dan tetap bersabar menjalani prosesnya sembari berdoa kepada Allah yang Maha Kuasa membolak-balikkan hati. Catatan: alangkah baiknya bila dalam memberikan pemahaman tersebut dibantu oleh orang lain yang sederajat atau di atas orang tua.


9. Bilamanakah seseorang dikatakan atau dianggap telah siap menikah?

Jawab
Bagi perempuan, kesiapan ditandai dengan siap psikisnya untuk menjadi istri yang dipimpin dan menjadi ibu yang mendidik. Bagi laki-laki, kesiapan ditandai dengan siapnya menafkahi dan psikis untuk memimpin sebagai suami dan ayah.

Secara teknis, persiapan itu ada tiga:
1. Mempelajari ilmu tentang pernikahan dan keluarga.
2. Berusaha untuk berdikari guna menafkahi diri dan keluarga. 
3. Memastikan kesehatan fisik dan psikis.



Catatan Rabu - Kamis tanggal 26 - 27 bulan Oktober tahun 2016



Tidak ada komentar: