Sabtu, 11 Juni 2016

BERHIKMAH DALAM DAKWAH (3)


Kitab "Hikmah dalam Dakwah kepada Allah" telah menjelaskan rukun dasar bagi hikmah adalah Ilmu yang bermanfaat, Sikap arif, dan Murah hati. Tetapi untuk memperolehnya, Dr. Sa'd al Qahthani mengajukan empat hal berikut.


Pertama; Kepribadian yang Baik

Kepribadian ini menurut Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq memang ada yang bawaan watak seseorang, namun ada pula yang lahir dari kebiasaan dan latihan dengan diawali perenungan dan pemikiran terus-menerus. Kata beliau, melihat kepribadian itu sederhana; seperti pohon dapat dinilai dari buahnya, maka akhlak kepribadian juga dapat dinilai dari amal perbuatannya.

Untuk memiliki kepribadian yang baik, maka yang perlu dicamkan bahwasannya diri dai merupakan panutan bagi orang lain. Dan panutan terbaik kita adalah Rasulullah, maka proses berkepribadian yang baik adalah proses meneladani Rasulullah.

Kuncinya ada pada karakter Jujur dan Adil. Kejujuran hendaknya terimplementasi dalam niatan, perkataan dan perbuatan. Maka seorang dai yang jujur dalam niatannya, perkataannya, serta perbuatannya; akan dapat tampil dengan sepenuh hikmah. 

Adapun Keadilan, seperti yang pernah diungkapkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ayat-ayat al Quran mengenai segala hal yang baik dan buruk terkumpul dalam satu ayat pada surat an Nahl. "Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan baik." (an Nahl : 90) Ibnul Arabi membagi makna keadilan tersebut pada 3 hal: Keadilan antara hamba dengan Rabb-nya yaitu mengutamakan hak Allah daripada kepentingannya, Keadilan antara hamba dengan dirinya sendiri yaitu menahan diri dari segala yang merusak meskipun diinginkannya, serta Keadilan antara hamba dengan makhluk lain yaitu memberikan nasehat kebaikan dan keadilan.

Maka mereka yang masih enggan mengutamakan hak Allah, karena belum tahu bahwa di balik hak Allah ada hikmah besar yang akan kita dapatkan daripada bila sekadar mengutamakan kepentingan diri. Begitupun mereka yang masih enggan menahan diri dari hal yang merusak meski diri menginginkannya, juga karena belum tahu bahwa ada hikmah besar di balik penundaan keinginan diri. Dan mereka yang masih enggan memberikan nasehat kebaikan dan keadilan, karena belum tahu bahwa di balik nasehat yang kita berikan akan ada hikmah besar bagi kita dan kehidupan ini.

Kedua; Mengamalkan Ilmu dengan Keikhlasan

"Banyak kaum pendahulu yang mengatakan bahwa hikmah adalah pengetahuan tentang agama dan kemudian mengamalkannya," demikian kata Ibnu Taimiyah dalam kitab 'Meninggalkan Pertentangan antara Akal dan Ayat'. Maka bila kita ingin mendapatkan hikmah, tidak cukup dengan berpengetahuan, namun harus pula beramal dengannya. Sebab ilmu hanyalah data-data, sedangkan amal yang akan memberikan makna bagi data-data tersebut.

Tapi pastikan keikhlasan kita sempurna. Jangan sampai kita mengamalkan ilmu demi mendapatkan hikmah. Sedangkan hikmah asalnya dari Allah semata. Maka ikhlaskan amal-amal hanya kepada-Nya.

Sebab, suatu ketika Ibnu Taimiyah mendengar petuah bahwa siapa yang ikhlas selama 40 hari akan terpancarlah hikmah padanya. Lalu beliau pun mencoba, akan tetapi tak jua dikaruniai hikmah. Datanglah beliau kepada seorang yang arif, lalu mendapatkan teguran indah, "Sesungguhnya kamu hanya ikhlas untuk mendapatkan hikmah dan tidak ikhlas karena Allah." Maka Dr. Sa'd al Qahthani menyimpulkan, "Siapa yang menghendaki sesuatu dan disertai dengan tujuan (niat) yang lain, maka yang dituju sebenarnya adalah niatnya yang kedua itu. Sedangkan niat yang pertama hanya perantara untuk mendapatkan yang kedua."

Ketiga; Istiqomah

Untuk mendapatkan hikmah, kita perlu istiqomah. Sebab Allah berfirman dalam surat Fushshilat ayat 30, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'"

Sungguh dalam keistiqomahan kita akan banyak mendapatkan hikmah dari waktu ke waktu. Hingga kita memiliki kemantapan perspektif yang jauh ke depan. Inilah capaian hikmah yang diperlukan oleh seorang dai; agar dakwah baginya tak sekadar apa yang berubah kini, namun juga apa yang akan langgeng di masa mendatang.

Keempat; Pengalaman

"Seseorang tidak dikatakan bijaksana sebelum ia memiliki pengalaman," demikian kata Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu.

Kira-kira gambarannya seperti dirunut dalam 'Fathul Baari' dan 'Tuhwah al Ahwaadzi'. Orang yang pernah melakukan kesalahan lalu merasa bersalah dan diberi maaf, ia akan mengetahui pentingnya sifat pemaaf yang membuatnya tidak akan marah kepada orang lain karena ia juga pernah mengalaminya; saat itulah ia mendapatkan sifat penyabar yang sempurna. Atau runutan lainnya, seseorang tidak bisa dikatakan penyabar secara utuh kecuali pernah mencoba banyak hal serta mengetahui yang baik dan yang buruk; saat itulah ia memiliki kesabaran yang sebenarnya karena kehati-hatian.

Begitulah pentingnya pengalaman untuk mencapai derajat hikmah. "Hikmah merupakan hasil pemikiran yang paling berharga dan juga merupakan intisari dari sebuah ilmu pengetahuan dan percobaan," demikian menurut Dr. Subhi Mahmashani.

Sementara Dr. Musthofa as Siba'i pernah merincikan urgensi pengalaman dalam risalahnya yang berjudul "Beginilah Kehidupan Mengajariku". Bahwa pengalaman hendaknya berfungsi mengembangkan kemampuan, mengurangi sifat marah, serta meningkatkan daya pikir. Begitupun ia hendaknya berfungsi memberi keberanian kepada orang pengecut, membuat orang kikir menjadi pemurah, melembutkan hati yang keras, serta menguatkan mental orang lemah. Lalu pungkas beliau, "Siapa yang pengalamannya bertambah akan tetapi dia tetap buta terhadap sesuatu yang selama ini ia buta terhadapnya, maka dia adalah orang yang tidak dapat mengerti apa-apa."

Beginilah, hendaknya setiap muslim nan dai menggapai hikmah sebagai bekalan dakwah. Dimulai dengan Kepribadian, lalu Amal, lanjut dengan Istiqomah dan perbanyak Pengalaman. Sebab di balik Kepribadian, Amal, Istiqomah, dan Pengalaman; terdapat hikmah besar yang dapat kita peroleh. Pastikan kita mendapatkannya!



Muhammad Irfan Abdul Aziz
6 Ramadhan 1437 H

Twitter: @Daybakh
BBM PIN: 56C730A3

Channel Telegram: @MadrasahRamadhan

4 komentar:

Kak Pita mengatakan...

Materi yang berat tapi ringan di baca. Ini kayaknya bukan Om Ir deh kkwkw :p

Tya Al-Zahira mengatakan...

Wah bermanfaat nih, tinggal di praktekan dalam kehidupan sehari-hari

Irfan Azizi mengatakan...

Wkwkwkwk... Ojo ngono :)

Irfan Azizi mengatakan...

Terima kasih, mbak Tya... Sdh berkunjung :)