Tampilkan postingan dengan label Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2016

PENGGEMBALA MUSLIM YANG DATANG KE BULELENG

sumber: remaspegayaman

Masuknya Islam di Buleleng merupakan berkah tidak langsung kekalahan Blambangan dari serangan pasukan Truna Goak yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panji pada tahun 1587. Kekalahannya tragis, karena Santa Guna sebagai Raja Blambangan meskipun sudah turun tahta dan mengindari kecamuk dengan bersemedi akhirnya mati ditikam dengan Ki Semang, yaitu kerisnya I Gusti Ngurah Panji. Tetapi duka tak hanya menjadi milik Blambangan, melainkan juga milik Mataram di Jawa. Sebab Santa Guna adalah Senapati Mataram untuk wilayah Blambangan.

Kamis, 03 Maret 2016

TAWANAN BELANDA DARI ACEH YANG MENGENALKAN ISLAM DI BANGLI


Tengku Haji Ahmad, itulah Muslim yang mengenalkan Islam di Bangli. Bersama sahabatnya, Tengku Umar, ia turut diangkut oleh kapal Kompeni Belanda pada 1908. Mereka yang terangkut dalam kapal itu adalah pemberontak pada perang Aceh. Merekalah kaum Paderi, kaum Santri yang tak rela bumi nusantara dijajah oleh siapapun.

Senin, 15 Februari 2016

KETIKA KEAHLIAN MUSLIM DIBUTUHKAN KERATON TABANAN


Sebuah surat berbahasa Jawa masuk ke pemerintahan Batara Ngeluhur, namun saat itu tak satupun dari petinggi kerajaan yang bisa membaca isi surat. Maka sang Raja pun mencari orang yang bisa membacakannya. Hingga bertemulah dengan seorang anak muda dari desa Temenggungan (Blambangan / Banyuwangi – Jawa Timur) yang sedang bekerja pada salah satu keluarga di daerah itu; namanya Aryo Nur Alam.

Selasa, 09 Februari 2016

PERAN RADEN MADURA DAN KAPTEN BUGIS DALAM PENGENALAN ISLAM DI BADUNG


Badung adalah salah satu nama kabupaten di Bali. Islam mulai dikenal di daerah ini dengan dua motif. Pertama adalah Motif Sosial; karena cenderung pada alasan peri-kemanusiaan. Kedua adalah Motif Ekonomi; karena hubungan dagang antara orang-orang Bugis dengan orang-orang Bali.

Jumat, 05 Februari 2016

TIGA TAHAPAN PENGARUH ISLAM DI BALI

Muslim Bali gelar sholat Idul Adha di Renon (harnas.co)

Setelah masuknya agama Islam di nusantara pada abad XIII, kemudian semakin berkembang pada abad XV (sekitar tahun 1416) dengan kehadiran para Muballigh dari Malaka, Persia, dan Gujarat, maka tumbuh beragam kerajaan Islam di nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam itu tersebar di beberapa wilayah nusantara; di antaranya Aceh, Minangkabau, Jawa, Ternate, Goa, Banjar, dan Kutai. Selain itu, juga ada di beberapa daerah lainnya.

Dalam sebuah buku pengenalan Islam di Bali yang disunting oleh Drs. M. Sarlan, M.P.A., maka kita dapat mengenali 3 tahapan pengaruh Islam di Bali. Tiga tahapan itu adalah Jalur Diplomasi - Politik, Jalur Perdagangan - Ekonomi, dan Jalur Kekerabatan - Sosial.

Selasa, 02 Februari 2016

UMMAT ISLAM DI RAHIM KLUNGKUNG


Pasca penaklukan Gajah Mada tahun 1343, Bali didominasi oleh kuasa kerajaan Hindu. Saat itu sebagai penguasa baru berasal dari keluarga Kresna Kepakisan dari Majapahit (Jawa), yang memerintah di Samprangan (Gianyar). Raja saat itu dibantu oleh para Patih yang berasal dari keluarga Arya dan Wesia. Para Patih dari keluarga Arya adalah Arya Kenceng, Arya Kenuruhan, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Delancang, Arya Pengalasan, Arya Wangbang, Arya Kutawandira. Adapun para Patih dari keluarga Wesia adalah Tankober, Tanmundur, dan Tankaur.

Senin, 01 Februari 2016

LIMA MASA KERAJAAN GELGEL


Kerajaan besar yang pernah ada di Bali adalah Kerajaan Gelgel. Uniknya, dari pusat kerajaan besar Hindu di Bali inilah kelak Islam mulai dikenal oleh masyarakat Bali. Kiranya, bila dirasa perlu mencermati kerajaan ini, maka kita bisa membagi penelaahannya berdasarkan 5 masa kepemimpinan dalam Kerajaan Gelgel.

Rabu, 20 Januari 2016

WACANA KREMATORIUM YANG SEMPAT KONTROVERSIAL DI BALI (SAAT AGAMA TERBENTUR DENGAN ADAT)


Jangan anggap, bila Bali yang identik dengan tradisi Hindu dan dihuni oleh mayoritas umat Hindu maka benturan antara Agama dan Adat tidak terjadi. Nyatanya benturan itu ada, bahkan semakin pelik saat berada di lokasi yang sangat menjunjung tinggi adat. Karena hakikat adat adalah penjagaan warisan kebiasaan, sehingga alasan ‘penjagaan’ itulah yang seringkali tidak dapat menyesuaikan perkembangan zaman. Sebab tidak ada kebiasaan yang abadi dalam kehidupan dunia yang terus melalui dinamika perjalanan zamannya. Dan inilah yang pernah terjadi saat gagasan pembangunan Krematorium diangkat oleh Pesematonan Warga Pasek Sanak Sapta Rsi pada tahun 2007.