Minggu, 17 Januari 2016

FENOMENA SEJARAH PURA LANGGAR DI BALI


Masuknya Hindu dan Islam di Bali hanya selisih dua abad. Dengan demikian hampir tidak ada kendala dalam proses akulturasi masyarakat Hindu dan masyarakat Muslim di Bali. Tapi ada satu faktor yang mungkin bisa dianggap cukup signifikan dalam mempererat jalinan hubungan masyarakat Hindu dan masyarakat Muslim di Bali, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh mantan Ketua MUI Bali yaitu almarhum H. Habib Adnan.


Beliau membandingkan masuknya Islam ke Jawa dengan masuknya Islam ke Bali. Jelas beliau, Islam masuk ke Jawa melalui pedagang atau muballigh yang langsung terjun di tengah-tengah masyarakat. Adapun di Bali, Islam masuk melalui pemerintahan atau kerajaan. Makanya bisa didapati di Gelgel ada orang Muslim yang menjadi karyawan Raja, di Jembrana kalangan Muslim menjadi sahabat Raja, serta di Karangasem ada orang Muslim yang menjadi Punggawa atau Pengawal Raja.

Sehingga kita juga mendapati beberapa susunan nama campuran. Seperti yang dicontohkan oleh ustadz Thoyib Zein Arifin; ada yang bernama Made Ali, Nyuman Muhammad, Wayan Nasir, Ketut Sulaiman, dan sebagainya. Begitupun kita akan mendapati bagaimana peri kehidupan yang hampir tiada beda antara penduduk Hindu dan penduduk Muslim di dusun Saren Jawa kabupaten Karangasem.

Pura Langgar

Ada satu hal yang bisa dikatakan sebagai fenomena sejarah di Bali. Yaitu sejarah Pura Langgar. Di mana terdapat Pura orang Hindu dan Langgar orang Muslim di satu areal. Langgar berada di tengah, lalu di sisi-sisinya terdapat Pura. Maka disebutlah Pura Langgar, yang berada di desa Bunutin, Bangli.

Pura Langgar ini memang dibangun oleh Dalem Dewa Agung Wilis yang merupakan Raja Kerajaan Bunutin di Bangli, begitu menurut cerita Ida I Dewa Ketut Gede atau juga disebut Anak Agung Ketut Gede (seorang tokoh agama Hindu yang merupakan keturunan Raja Kerajaan Bunutin). Sang Raja ini memiliki dua istri; yang pertama memiliki 2 putra dan yang kedua memiliki 3 putra.

Suatu ketika, putra pertama dari istri pertama yang bernama I Dewa Agung Mas Blambangan menderita penyakit yang susah disembuhkan. Usianya masih remaja. Namun sakitnya cukup sulit, sehingga tabib-tabib yang ada tak mampu mengobatinya.

Hingga seorang tokoh agama Hindu mendapatkan wangsit dalam persemediannya. Wangsitnya cukup jelas, mengarahkan sang Raja untuk membangun Langgar. Awalnya mereka juga tidak memahami yang dimaksud dengan Langgar. Namun setelah bertanya-tanya, didapatlah informasi bahwa yang dimaksud Langgar adalah tempat ibadah orang Islam. Maka dipanggillah seorang ahli dari Blambangan untuk membangun Langgar. Dan benar, setelah itu penyakit yang diderita oleh putra pertama Raja pun sirna.

Kesembuhan sang kakak membuat putra kedua Raja dari istri pertama pun penasaran. Apa gerangan yang terjadi dengan kakaknya, dan apa hubungannya dengan Langgar? Kira-kira demikian rasa penasaran yang menggelayuti putra kedua Raja yaitu I Dewa Agung Mas Bunutin. Maka ia segera memohon izin kepada ayahnya untuk pergi ke Blambangan. Awalnya sang ayah berat untuk mengizinkannya, namun setelah sekian kali memohon izin akhirnya dibolehkan juga. Sayangnya hal inilah yang menjadi kedukaan bagi sang Raja, sebab I Dewa Agung Mas Bunutin tidak pernah kembali sejak kepergiannya. Bahkan saat dicari oleh para punggawa kerajaan ke Blambangan pun tidak ditemukan.

Sementara tiga putra Raja dari istri kedua justru tidak menyukai pembangunan Langgar tersebut. Untuk menghilangkan terlalu men-sakral-kan Langgar, maka masing-masing dari ketiganya membangun Pura di sisi-sisi Langgar. Inilah yang menjadi penyebab disebutnya Pura Langgar.

Langgar itu hingga kini masih terawat, sebab ia memiliki nilai sejarah dalam perjalanan kerajaan Bunutin di Bangli. Tentu kesembuhan putra pertama Raja itu atas kehendak Allah azza wa jalla. Namun, sejarah ini kiranya dapat menjadi entry point untuk menjelaskan tentang fungsi Langgar bagi ummat Islam, tentang ibadah shalat, juga tentang hubungan makhluk dan Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana I Dewa Agung Mas Bunutin yang penasaran, mungkin banyak orang yang sama penasarannya. Maka, tugas da’i-lah yang menjawab segala rasa penasaran itu agar bertemu dengan nilai-nilai yang sebenarnya. Wallahu a’lam.


Depok, 17 Januari 2016

Muhammad Irfan Abdul Aziz
SMART (Studi Masyarakat untuk Reformasi Terpadu)

1 komentar:

Hadika Putra mengatakan...

Saya juga tertarik dengan keberadaan pura langgar. Kebetulan saya sedang melakukan tugas karya ilmiah tentang kunjungan wisatawan di pura langgar. Bila berkenan, saya akan mengirim kuisioner ke email anda. Mohon balasannya. Terimakasih