Selasa, 19 Juli 2016

Bagian II: AKSI PRO KUDETA DI TURKI (Antara Pendudukan dan Respon Penduduk)


Uniknya, bentrokan tidak hanya terjadi di Ankara, namun juga di Istanbul. Targetnya memang bukan sekadar merampas pemerintahan Negara, namun juga memorak-porandakan seluruh persendian Negara. Inilah kudeta untuk menghilangkan kestabilan negara, bukan untuk mengembalikan kestabilan Negara. Maka, sesungguhnya mereka bekerja untuk siapa?


Tidak lama setelah muncul para makar pro Kudeta, titik-titik penting negeri segera diamankan. Di antaranya adalah Selat Bosphorus dan Jembatan Fetih Sultan Mehmet. Dua titik ini memang tidak berada di pusat pemerintahan kota Ankara, melainkan berada di Istanbul. Namun dua titik inilah yang membagi tanah Istanbul menjadi dua, sebagiannya di wilayah Asia dan sebagiannya di wilayah Eropa. Teritori seperti ini sangat rawan dikacaukan. Bila satu wilayah dalam negeri kacau, maka akan mudah mengacaukan yang lainnya. Dahulu penaklukan konstantinopel pun melalui titik-titik ini. Maka dua titik ini segera diblokir untuk diamankan oleh pasukan pengamanan negara.

Lalu Presiden dan Perdana Menteri menyeru kepada warga untuk turun ke jalanan. Hanya seruan singkat di televisi. “Saya mengundang bangsa kita ke lapangan. Saya belum melihat kekuatan yang lebih kuat dari sebuah bangsa,” begitu kata Erdogan penuh wibawa. Warga pun segera berbondong-bondong ke jalanan menghadang para pengkudeta dan melucuti semua persenjataannya.

Menariknya, Erdogan tidak berdiri sendiri. Tidak pula hanya didampingi oleh Perdana Menteri yang juga dari partai yang sama, yaitu AK Party. Melainkan pimpinan-pimpinan dari empat partai lainnya yang ada di parlemen pun turut berdiri bersama menghadang gerakan Kudeta ini.

Partai Republik Rakyat (CHP) yang beraliran sosialis melalui Ketua-nya Kemal Kilicdaroglu dengan tegas mengutuk kudeta dan segera menyatakan bahwa semua partai bersatu melawan Kudeta. Dengan penuh heroik ia mengatakan kepada khalayak, “Semua wakil partai bersama demokrasi melawan Kudeta!”

Barisan nasionalis yang berada di gerbong Partai Gerakan Nasionalis juga tak ketinggalan bersuara melalui Ketua-nya Devlet Bahceli. “Itu bukan hanya upaya kudeta, melainkan serangan teroris,” ungkapnya keras.

Apa yang terjadi di parlemen memang tidak mengherankan. Sebab Parlemen juga menjadi target para pengkudeta, bahkan dua staff parlemen telah menjadi korban terluka. Para pengunjuk rasa anti kudeta juga terus berjaga di luar parlemen. Sementara para anggota parlemen masih berada di dalam gedung. Tapi keberanian mereka untuk tetap tegas tanpa terbeli oleh makar-makar Kudeta di kala genting seperti ini tentu merupakan hal yang sangat layak diapresiasi. Sebab mereka bukan pula pro Erdogan, tetapi mereka tetap bisa berpikir jernih bahwa Kudeta bagaimanapun tidak menguntungkan bagi stabilitas Negara. Terutama di Negara seperti Turki yang demokrasi dan ekonominya sedang terus berkembang. Cukuplah ketamakan sekelompok militer di Mesir menjadi contoh derita yang berkepanjangan pasca kudeta. Dan Turki sendiri telah memiliki banyak contoh dalam negerinya, bagaimana kudeta yang berulang kali terjadi di Turki sama sekali tidak menguntungkan bagi stabilitas Negara. Bahkan dahulu ekonomi Turki sempat kolaps di puncak kudeta.

Kali ini meskipun tidak berhasil, Kudeta tetap menyisakan banyak korban kemanusiaan. Departemen Dalam Negeri Turki melalui Dailysabah.com menyatakan bahwa telah jatuh korban meninggal sebanyak 161 jiwa, di antaranya 41 polisi dan 47 sipil yang telah teridentifikasi. Adapun korban luka-luka mencapai 1440 orang. Angka ini bisa saja bertambah.

Di kalangan pro Kudeta pun telah jatuh korban. Sebanyak 104 tokoh pro kudeta dinyatakan tewas dalam bentrokan ini. Sungguh inilah aksi kesia-siaan, demi nafsu sekelompok orang maka kemanusiaan telah terkorbankan. Bahkan dari kalangan anak negerinya sendiri.

Tentu kita tidak perlu heran melihat angka korban sebanyak itu. Mengingat banyaknya titik-titik penting yang menjadi target pro Kudeta, maka sangat mungkin jatuh korban sebanyak itu. Ada Markaz Intelijen, Komplek Kepresidenan, Kantor Berita Negara, Studio Berita Swasta, Akademi Polisi, Lembaga Satelit Negara, dan Bandara yang menjadi target serangan Kudeta. Belum lagi mengingat adanya serangan Kudeta juga di Istanbul selain di Ankara. Bagaimanapun Istanbul sebagai kota yang padat dengan beragam spot publik tentu sangat rawan berjatuhan korban jiwa.

Di Markaz Intelijen Nasional sendiri telah jatuh korban 3 orang terluka. Hal itu karena pihak Kudeta telah menyerangnya dengan helikopter dan tembakan mesin. Dalam kondisi kekalutan itulah Kepala Intelijen, Hakan Fidan, terus memantau dari tempat yang aman dan selalu berkomunikasi dengan Presiden Erdogan dan Perdana Menteri Binali Yildirim.

Adapun komplek Kepresidenan di distrik Bestepe Ankara juga dikepung. Dilanjutkan dengan menjatuhkan dua bom di dekat komplek itu pada Sabtu pagi-nya yang mengakibatkan lima orang terluka. Selain pengamanan Presiden yang menjadi targetnya, serangan juga diarahkan ke massa anti kudeta yang berada di sekitar komplek Kepresidenan.

Dua kantor berita sempat diduduki. Kantor berita pertama adalah milik Negara, dan kantor berita kedua adalah milik Swasta yaitu CNN Turki. Kepada Kantor Berita Negara, pro Kudeta sempat memaksa beberapa saluran untuk menyiarkan pernyataan dengan semboyan ‘Perdamaian di rumah, Perdamaian di dunia’ yang dahulu merupakan jargon Mustafa Kamal Ataturk meskipun sebenarnya itu bertentangan dengan nilai-nilai republik dan para pengikut Gulen sendiri. Tapi demi tercapainya ambisi mereka, maka segala cara meskipun tidak sejiwa dengan mereka tetap dijadikan senjata untuk melumpuhkan pemerintahan Erdogan.

Selain siaran pernyataan itu, mereka juga mengklaim melalui siaran-siaran itu bahwa tentara telah menguasai seluruh negeri dan mengumumkan jam malam. Syukurnya, tidak lama kemudian gedung kantor berita itu telah kembali diselamatkan oleh polisi dan sipil. Hal serupa juga dilakukan pada kantor studio berita swasta CNN TURK. Tapi tidak lama pula setelah sempat dikuasai oleh Kudeta, Pasukan Khusus bersama warga sekitar berhasil merebutnya kembali.

Para pelaku Kudeta juga bertingkah dengan helikopter dan jet tempur yang digunakannya. Di antaranya menyerang Akademi Polisi Khusus dan TURKSAT selaku perusahaan satelit nasional yang berada di distrik Golbasi. Akibatnya 17 polisi yang berada di gedung pendidikan itu tak dapat diselamatkan nyawanya, sementara di komplek TURKSAT telah jatuh korban 2 orang meninggal dari kalangan sipil. Angka ini kemudian diperbaharui lagi oleh Jaksa Penuntut Umum di wilayah Golbasi, Ankara, yang menyatakan bahwa jumlah korban mencapai 42 jiwa dengan sebagian besarnya adalah polisi.

Sementara Bandara Internasional Ataturk sebelum berhasil diduduki, sudah diamankan oleh polisi dan sipil. Tank-tank militer dikerahkan untuk menjaga di luar bandara. Bahkan dua jenderal pro kudeta dan beberapa tentara berhasil ditahan di lokasi ini. Kondisi bandara relatif stabil, dan pengamanan ketat hanya berlangsung malam hari itu saja. Sebab setelah Shubuh, bandara kembali diaktifkan. Pihak Turkish Airlines telah mengumumkan bahwa pukul 06.00 pagi seluruh operasi di bandara kembali normal.

Setelah semua rangkaian ketegangan itu, tanpa menunggu jeda Pengadilan Turki telah memerintahkan penahanan 2745 Hakim dan Jaksa yang pro Gulen, termasuk pula dua anggota Mahkamah Konstitusi yang terlibat dalam Kudeta. Departemen Dalam Negeri sendiri telah merilis angka sebanyak 2839 orang pro Kudeta yang telah ditahan. Di dalamnya terdapat pula 29 Kolonel dan lebih dari 40 Jenderal.

Demikianlah episode semalam antara pendudukan kudeta dan respon penduduk di Turki. Yang perlu dicamkan bahwasannya pendudukan itu lahir dari ambisi, sementara respon penduduk lahir dari nurani. Selamanya, penduduk tak rela berada dalam pendudukan yang semena-mena. Sabtu dini hari itu (16/07) naluri penduduk Turki telah mengalir alami dengan sebenar-benarnya. Semoga naluri itu terus tumbuh bersama nurani yang jernih, dan kita selalu dapat belajar dari mereka.



Nusantara, 18 Juli 2016

Tidak ada komentar: