Sabtu, 28 Oktober 2017

SULTAN SULAIMAN, PEMUDA YANG MENGOKOHKAN SEJARAH UTSMANI DI TIMUR DAN BARAT




Mengenang Turki adalah mengenang pusat kejayaan Ottoman Utsmani. Mengenang pula sosok yang kini fotonya terpampang di The United States Capitol Building, gedung tempat Senator dan Parlemen Amerika Serikat berkantor, serta tempat acara-acara kenegaraan termasuk tempat pelantikan Presiden Amerika Serikat. Ialah Sultan Sulaiman al Qonuni, yang dalam literatur Barat disebut Sulaiman The Magnificent atau Sulaiman yang Istimewa. Jadilah ia dimuliakan oleh musuhnya, sebelum oleh pengikutnya. Bahkan seakan menjadi Raja yang paling mulia dalam perspektif sejarah Eropa.


Ia harus memimpin di usia 25 tahun, setelah wafat ayahnya. Meskipun masih berusia muda, namun ia berhasil mengokohkan sejarah Utsmani. Bahkan pada masanya, Ottoman berhasil menguasai wilayah terluas dalam hitungan sejarah umat Islam. Dan karena alasan inilah, Sultan yang memimpin selama tahun 1494 hingga 1566 tersebut diabadikan bersama 22 potret legenda dunia, dengan dipampangkan fotonya dalam media marmer di atas pintu galeri ruangan Parlemen Amerika Serikat. Dua puluh tiga tokoh itu dipilih karena dianggap telah berhasil membangun prinsip-prinsip yang mendasari hukum Amerika Serikat, dan salah satunya adalah Sultan Sulaiman Al Qonuni. Bagi Amerika Serikat, Sultan Sulaiman Al Qonuni adalah tokoh yang telah merintis reformasi prinsip-prinsip antara sipil dan militer, serta menjadi tokoh yang berhasil menyatukan wilayah-wilayah yang tidak stabil untuk berada dalam imperium yang dipimpinnya.

Memangnya, apa yang telah ia lakukan? Ia bebaskan wilayah Tunisia, Aljazair dan Libya dari pasukan Salib. Ia melawan Portugis di Laut Merah. Ia amankan negara teluk agar tidak dipecah-pecah. Bahkan ia menyatukan Oman, Al Ihsaa dan Qatar. Hingga Somalia pun bergabung dengan menjadikan pelabuhannya sebagai markaz angkatan laut Ottoman. Begitupun pelabuhan Aden di Yaman.

Ia adalah cicit dari Muhammad Al Fatih, pembebas Konstantinopel. Bahkan ia adalah jawaban atas doa al Fatih ketika gagal menaklukkan Belgrade. Doa al Fatih ketika itu, "Ya Allah, bukakanlah kota ini dengan tangan seorang dari keturunanku."

Silsilah lengkapnya adalah Suleiman bin Selim I bin Bayazid II bin Muhammad al Fatih bin Murad II bin Muhammad I bin Bayazid I bin Murad I bin Orhan Ghazi bin Utsman I bin Ortoglu. Ayahnya memberi nama Sulaiman karena kesan terhadap Nabi Sulaiman yang bukan hanya sebagai utusan Allah melainkan juga sebagai Raja.

Memang, melihat usia mudanya membuat beberapa pihak merasa punya peluang memberontak. Secara internal, di antara yang memberontak adalah Gubernur Syam. Secara eksternal, di antara yang memberontak adalah Raja Hongaria yang tak berkenan membayar jizyah sebagaimana pada masa sebelumnya. Namun gerakan pemberontakan itu berhasil ia tumpas.

Bahkan untuk menyelesaikan Hongaria, Sulaiman pun mengirim pasukan besar hingga ke pusat Eropa, yaitu sampai ke kota Belgrade. Dan inilah momen pengabulan doa Muhammad Al Fatih. Kota yang kini jadi Ibukota Serbia dan dahulu masuk wilayah kerajaan Hongaria itu, akhirnya dapat ditaklukkan oleh Sulaiman Al Qonuni setelah sebelumnya gagal oleh Muhammad Al Fatih. Sesungguhnya, kota inilah yang jadi titik terdepan kekuatan Kristen di Eropa Timur setelah runtuhnya Konstantinopel. Begitu ditaklukkan oleh Sulaiman Al Qonuni, segera dikumandangkan Adzan di bentengnya yang terkenal.

Berita penaklukan Belgrade membuat Raja Eropa segera membayar jizyah. Bahkan mereka akhirnya berkesimpulan bahwa Sulaiman adalah sosok pemberani. Hingga Raja Prancis (Francois I) meminta bantuan untuk menghadapi Spanyol. Maka diutuslah Khairuddin Barbarossa dengan angkatan lautnya untuk membebaskan negeri Prancis dari penjajahan Spanyol, mengembalikan kota Nice dan pulau Corsica. Dan ia mendapat imbalan pelabuhan Toulon untuk basecamp angkatan laut Utsmani.

Jadilah kota Toulon sebagai kota yang bernaung dengan hukum Islam. Adzan dikumandangkan di bentengnya. Panji khilafah pun dikibarkan di atasnya. Bahkan Sulaiman pun turut memperbaiki undang-undangnya, seperti melarang tarian yang tidak bermoral, agar tidak merusak moral penduduk Prancis.

Bila negeri kristiani saja meminta bantuan kepada Sulaiman al Qonuni, maka tentu negeri muslim pun demikian. Di antara yang meminta bantuan itu adalah Muslim India dan Muslim Aceh, untuk menghadapi penjajah Portugis.

Jadi jangkauannya di laut sudah sampai Asia Tenggara, ke baratnya sampai Eropa dan ke utaranya sampai Afrika. Dalam kondisi membantu negara-negara jauh, iapun terus berusaha membebaskan muslim yang tertindas oleh pasukan Salib di Spanyol (Andalusia).

Di antara yang fenomenal dari sejarah kepemimpinannya adalah usaha menumpas bajak laut St John yang telah menguasai pulau Rhodes dan terus mengganggu pasukan laut Muslimin. Fenomenal, karena menggunakan strategi yang unik dan belum pernah dilakukan selainnya, yaitu cara yang sekarang setelah 500 tahun dipakai kembali oleh HAMAS di Palestina. Yaitu membuat 50 terowongan bawah tanah yang menembus benteng dari bawah. Dengan cara ini, St John pun kocar - kacir meninggalkan pulau ini, lalu pergi ke Malta dan berubah nama menjadi tentara Malta.

Terakhir, mengenangnya adalah mengenang kemenangan pada perang Mohach. Saat itu tahun 1526, Paus Vatikan menyeru untuk sama-sama menyerang Sulaiman Al Qonuni. Bagi yang turut serta akan mendapat sertifikat dengan tanda tangan Paus yang menyatakan seluruh dosa mereka diampuni dan akan kekal di surga.

Aliansi itupun terbentuk dengan nama The Great Roman Sacred Empire yang terdiri dari Spanyol, Italia, Jerman, Austria, Belanda, Belgia, Switchzerland dan Luxemburg. Ditambah Prancis. Juga kerajaan Hungaria yang terdiri dari Hungaria, Slovakia dan Transelvania yang kini termasuk Roma di utara Serbia. Begitupun kerajaan Bohemia, yang sekarang Republik Ceko. Termasuk kerajaan Kroasia dan Polandia. Serta Kerajaan Bavaria Jerman, yaitu wilayah Bayern.

Singkatnya, semua membangun aliansi besar melawan Sultan Sulaiman Al Qonuni. Dengan pertolongan Allah, semua peserta aliansi itu dapat dikalahkan di Mohack.

Itulah sejarah agung umat ini, yang keemasannya hendak diburamkan oleh mereka yang tidak menginginkan umat Islam mulia, dengan menebar film Permaisuri Sultan (Hareem Sultan). Menebar persepsi bahwa Sultan hidup dikelilingi perempuan dan duniawi. Padahal Sultan telah menjalani hidupnya penuh dengan Jihad.

Sayangnya, kita menikmati betul film tersebut yang judul asli sebenarnya adalah Muhtesem Yuzyil (Abad Keemasan). Kitapun dengan latah mengharu-biru menjadi supporter tim sepakbola yang dahulu termasuk bagian aliansi melawan Sultan Sulaiman al Qonuni.

Lalu?


Irfan Azizi
Istanbul, 25 Oktober 2017