Selasa, 12 April 2016

BAGAIMANA SEORANG MUSLIM MENYELAMI ILMU PENGETAHUAN DAN SENI BUDAYA?

sumber: malay.cri.cn

Tidak benar bila kita menganggap syariat Islam hanya persoalan hukum. Sebab jika kita membahas syariat Islam, sesungguhnya ia adalah ketetapan Allah terkait segala hal dalam mengatur kelangsungan hidup manusia. Sederhananya syariat Islam mencakup empat hal berikut; Keyakinan, Hukum, Akhlak, dan Ilmu Pengetahuan.


Syariat terkait Keyakinan berupa konsepsi tentang hakikat ketuhanan, hakikat alam semesta fisik maupun metafisik, hakikat kehidupan natural ataupun supranatural, dan hakikat manusia. Sementara syariat terkait Hukum berupa konsepsi yang mengatur semua tatanan kehidupan dalam hal politik, sosial, ekonomi.

Adapun syariat terkait Akhlak berupa konsepsi yang tercermin pada nilai dan patokan yang dominan dalam masyarakat muslim. Dan syariat terkait Ilmu Pengetahuan berupa konsepsi yang tercermin pada dasar aktivitas intelektual dan kesenian.

Mungkin terkait keyakinan dan hukum sudah banyak dipahami secara umum. Sedangkan terkait akhlak dan ilmu pengetahuan belum banyak yang memahaminya. Padahal kita telah menyaksikan dalam fenomena kehidupan di lingkungan kita, bahwa Akhlak yang berkembang itu sesungguhnya mengacu langsung pada konsepsi teologis yang dianut mayoritas masyarakat. Jadi bagaimana konsep teologi keyakinannya, maka begitulah bangunan akhlaknya.

Begitupun terkait Ilmu Pengetahuan juga akan diapresiasi oleh para penuntutnya dengan konsepsi teologi yang diyakininya. Maka bagi seorang Muslim dalam mendalami ilmu pengetahuan dan mengapresiasinya, hendaknya selalu mengembalikannya kepada konsepsi Islami dan referensi Rabbani.

Poin inilah yang akan kita telaah dalam bahasan kali ini. Bagaimana hendaknya kita berilmu pengetahuan? Bagaimana hendaknya kita berseni budaya?

Ilmu dan Karya

Apapun aktivitas intelektual kita, hendaknya merupakan realisasi penghambaan mutlak kepada Allah semata. Begitulah harusnya kita berilmu. Bahwa ilmu yang kita capai selalu difungsikan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Lalu dengan keilmuan itu kita berkarya; dengan beragam aktivitas seni yang merupakan ekspresi manusiawi tentang berbagai macam imajinasi, emosi, dan reaksi manusia. Begitulah seni sebagai ekspresi manusia, yang juga tentang ilustrasi jiwa manusia atas alam semesta dan kehidupan.

Tentu bagi seorang Muslim, ketika ia berimajinasi maka imajinasinya sesuai dengan konsepsi Ketauhidan. Begitupun emosinya adalah emosi yang sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak yang turun dari landasan Tauhid. Sama halnya dengan reaksinya adalah reaksi yang sesuai dengan kerangka hukum-hukum Islam. Termasuk ketika seorang Muslim berkesenian dengan mengekspresikan kehidupan dan alam semesta, maka ekspresinya tidak lepas dari batas-batas eksistensi Khalik dan eksistensi Makhluk.

Inilah universalitas konsepsi Islam. Mencakup segala unsur alam semesta, jiwa manusia, dan kehidupan. Juga mencakup keterkaitan dengan Sang Pencipta alam, serta imajinasi terhadap hakikat manusia. Lebih detail lagi mencakup posisi manusia terhadap alam, tujuan hidup manusia, peran kehidupan manusia, dan nilai-nilai kehidupannya.

Bagaimana Hendaknya Cara Belajar Kita?

Setiap ilmu pengetahuan dan karya seni budaya menyimpan filosofi di baliknya. Sebab ilmu pengetahuan merupakan penjabaran semua aktivitas manusia secara individual maupun kolektif. Selain itu, ilmu pengetahuan juga merupakan penjabaran akan perkembangan alam semesta dan kehidupan, serta perkembangan diri dari sudut pandang metafisika.

Maka, filosofi inilah yang tidak boleh lepas dari tatanan Ketauhidan. Karenanya ilmu pengetahuan dan karya seni budaya dengan filosofi ketauhidannya itu hanya bisa dipelajari dari sumber yang Rabbani; yaitu para ahli ilmu dan seni yang mumpuni keagamaannya, konsisten ketakwaannya, serta komitmen terhadap akidah dalam kehidupannya.

Inilah yang dapat mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan dengan akidah di dalam sanubari, sehingga menyadarinya sebagai konsekuensi dari penghambaan kepada Allah semata. Dengan demikian, umat Islam terhindar dari ilmu pengetahuan dan konsepsinya yang bersumber dari warisan jahiliyah. Dengannya pula, aktivitas belajar umat Islam sekaligus mampu melakukan koreksi dan meluruskan penyimpangan yang melekat dalam warisan ilmu pengetahuan dan seni budaya.

Bisa dipastikan bahwa semua ilmu pengetahuan yang lahir dari pemikiran filsafat itu terpengaruh secara langsung oleh konsep-konsep akidah jahiliyah. Kecuali ilmu pengetahuan yang berupa penelitian, pengamatan, pendataan dan dokumentasi; yang bukan merupakan kesimpulan filsafat. Seperti ilmu-ilmu eksperimentatif dalam disiplin ilmu Kimia, Fisika, Astronomi, Biologi, dan Kedokteran. Eksperimentasi itu sesungguhnya hanya berupa dokumentasi hasil-hasil penelitian yang tidak sampai pada penjabaran filosofis.

Oleh karena itu, kita diperbolehkan mendapatkan ilmu dari siapa saja dalam hal keilmuan yang sebatas dokumentasi eksperimentatif tanpa penjabaran kesimpulan filosofinya. Adapun terkait ilmu yang merambah pada penjabaran filosofi, maka hanya kepada guru-guru yang Rabbani hendaknya kita menuntutnya. Dengan demikian, tidak terjadi penyimpangan filsafat.

Sebab dalam kehidupan ini, penerapan ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah penerapan ilmu pengetahuan yang bertumpu pada dasar-dasar ideologi yang Islami; itulah peradaban Islami. Kedua adalah penerapan ilmu pengetahuan yang bertumpu pada beragam konsepsi yang semuanya merujuk pada satu prinsip yaitu penuhanan pemikiran manusia; itulah peradaban Jahiliyah.

Konsepsi Keilmuan Islam

Tren penelitian dalam keilmuan kita sesungguhnya bermula dari beberapa perguruan tinggi Islam di Andalusia dan Eropa Timur. Lalu tren ini diikuti oleh kalangan Nasrani di Barat. Sayangnya mereka memotong mata rantai metodologi dalam penelitian dengan menjauhkannya dari Tuhan. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, sebab semangat keilmuan mereka memang berangkat dari pembangkangan mereka terhadap otoritas gereja yang sangat otoriter dan mengekang berkembangnya keilmuan.

Pemisahan antara ilmu dan Pemilik-nya inilah yang tidak dikenal dalam Islam. Dan inilah poin terpentingnya bagi setiap Muslim yang menggeluti ilmu pengetahuan dan seni budaya. Maka bila memang mampu belajar sendiri, maka hendaknya seorang Muslim mempelajarinya secara mandiri. Namun bila tidak mampu belajar sendiri, maka bisa mempelajarinya dari seorang Muslim yang bertakwa dan kompeten dalam keilmuan dan kesenian terkait.

Memang, Islam memberikan toleransi bagi seorang Muslim untuk belajar dari non Muslim atau dari seorang Muslim yang tidak bertakwa dalam keilmuan yang sekadar dokumentasi eksperimentatif seperti ilmu Kimia, Fisika, Astronomi, Kedokteran, Teknologi, Pertanian, Manajemen, dan lainnya. Itupun selama tidak menemukan ahli dari seorang Muslim yang bertakwa.

Adapun terkait dasar akidah dan dasar ideologi seperti interpretasi al Qur’an, Hadits, maupun sejarah Nabi, mutlak harus dipelajari dari seorang Muslim yang Rabbani. Begitupun terkait metode sejarah, tuntunan amal, pandangan masyarakat, sistem pemerintahan, sistem politik, serta corak seni, sastra, dan retorika; hendaknya dipelajari dari seorang guru yang memahami betul filosofi Islam.

Demikianlah konsepsi keilmuan Islam tidak mungkin disimpulkan dari perpaduan dua sumber yang berbeda landasan filosofinya. Karenanya Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Ali Imran ayat 100, “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir sesudah kalian beriman.

Rasulullah pun pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Hafidz Abu Ya’la dari Hammad dari Jabir, “Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada Ahli Kitab, karena mereka tidak akan memberi kalian petunjuk (yang benar). Bukankah mereka telah sesat? Maka, bisa jadi kalian akan membenarkan perkara yang batil; bisa jadi pula kalian akan mendustakan perkara yang hak. Sesungguhnya demi Allah, andai saja Nabi Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, niscaya tidak diperbolehkan baginya kecuali mengikuti (agama)ku.

Inilah yang disebut perang pemikiran. Tradisi belajar yang mengabaikan koridor-koridor filosofi Islam, maka akan melahirkan generasi yang rawan terjerumus dalam pembenaran yang batil dan pendustaan yang benar. Itulah saat umat tak lagi mampu membedakan yang benar dan yang batil.

Epilog

Dari penjabaran itu, kesimpulan intinya adalah bahwa kita tidak diperkenankan belajar mengenai interpretasi kepada seorang yang tidak memahami filosofi Islam dengan baik. Sebagaimana Allah azza wa jalla telah berfirman dalam surat an Najm ayat 29 – 30 kepada Rasul-Nya, “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhan-Mu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia pula yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” Maka kita akhirnya mengetahui, bahwa ilmu yang terpisah dari spirit keimanan sesungguhnya bukanlah ilmu yang hakiki.

Dari catatan sejarah pula kita memahami, bahwa kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa dalam suasana permusuhan dengan pihak gereja yang otoriter telah melahirkan watak berpikir yang penuh semangat penentangan terhadap dasar ideologi agama. Sehingga bisa dipahami, produk-produknya lebih memusuhi konsepsi Islam secara khusus sebagai sebuah ideologi agama.

Satu hal lagi yang akhirnya kita juga pahami. Bahwasannya kita pun mendapati fenomena pelajar ataupun mahasiswa dalam bidang ilmu-ilmu eksperimentatif yang terkait dengan hukum alam semesta dan siklus kehidupan ini justru semakin dekat dengan Islam. Sebab begitulah hakikat alam semesta dan siklus kehidupan adalah tanda-tanda kebesaran-Nya.

Sedangkan yang belajar dalam bidang keilmuan sosial yang mengandung kesimpulan filosofis, cenderung terjauhkan dari spirit Islam. Begitulah mereka memasukkan filosofinya dalam rumusan-rumusan keilmuan. Maka, silakan mempelajari ilmu pengetahuan dan seni budaya dari siapa saja, selama dalam batasan dokumentasi eksperimentatif. Tetapi bila sudah mengandung kesimpulan filosofis, hendaknya kita belajar dari seorang Muslim yang memahami betul filosofi Rabbani.


من كتاب معالم في الطريق لسيد قطب

Baca juga:

3 komentar:

Lina W. Sasmita mengatakan...

Duh baca tulisan ini lagi di jalan pula. Pengen baca perlahan sambil nyeruput kopi di rumah. Tandain dulu ya Om Fan :D

Irfan Azizi mengatakan...

Hehehe... Hati2 teh, met sampai tujuan :)

Rista Damayanti Anggraini mengatakan...

MasyaAllah. Jazakallah khairan syeikh irfan atas sharing ilmunya yg keren (y)