Minggu, 08 November 2026

Takziah Bapak H. Soeripto, S.H.


Selesai sudah 90 tahun kurang 2 pekan usianya. Ia tutup dengan ketenangan, meskipun jiwanya terus menderu bersama kafilah perjuangan umat. 

"Beliau antusias sekali, sampai maju ke depan, berdiri sampai selesai, mendengarkan dari dekat, dan mengajukan pertanyaan," tergopoh Ketua Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) bercerita tentangnya kepadaku. Saat ia berkunjung ke Islamabad, menghadiri agenda charity. Saat itu usianya sudah 75 tahun. Masih semangat dan antusias pada semua dinamika kehidupan ini. Meskipun telah larut malam. 

Lima belas tahun berlalu, dan usianya memasuki tahun ke-90. Semangat dan antusias itu tak pudar sedikitpun darinya. Selalu memastikan dirinya ada di barisan dakwah dan perjuangan. Beriltizam untuk selalu hadir bersama urusan umat dalam dan luar negeri, di manapun dan kapanpun. 

Ia tak mau tertinggal di setiap momen perjuangan umat Islam, di saat kami mungkin dengan mudahnya undur diri, mewakilkan ke yang lain, bahkan menunda atau mengelak. Ia selalu antusias menyimak setiap perkembangan, di saat kami hanya mau peduli dengan urusan yang ada kaitannya dengan kepentingan diri.

Ia yang tak pernah minta diistimewakan di tengah orang-orang yang lebih muda. Yang usianya bukan saja seumuran cucunya, bahkan seumuran cicitnya. Salah satu fragmen tentang ini adalah rutinitas berbuka puasa bersama para relawan Palestina. Ia turut duduk lesehan, tidak minta kursi atau mengeluh dingin bila duduk di lantai. Dan kemarin saat akan dishalatkan jenazahnya, Imam masjid dekat rumahnya pun bercerita, bahwa ia selalu shalat di masjid dan tak mau pakai kursi. Tetap berdiri seperti jama'ah lainnya. Tetap duduk seperti jama'ah lainnya. 

Bila kita ada keperluan dengannya, justru ia yang mengejar kita. Mengejar dalam artian meluangkan waktu, antusias menemui, bahkan tak jarang ia yang menghampiri meskipun harus naik mobil yang disupiri sendiri. 

Kita belajar darinya tentang tekad menembus batas. Tentang keimanan yang menembus ruang-ruang ketidakmungkinan, sebagaimana hakikat dakwah sebagai gerakan dengan izin-Nya. Dua tahun sebelum wafatnya menjadi momen yang semakin menguatkan keteladanan itu dari sosoknya. Seiring munculnya Thufanul Aqsha, sedari awal ia langsung mengumpulkan dan meminta cari jalan untuk menemui saudara di Palestina. "Dalam kondisi seperti ini, mereka perlu saudara yang membersamai. Jadi kita pastikan ada bersama mereka," pesannya. 

Yaa Rabb... Kami yang tumbuh dari lingkungan pendidikan islami, dan memahami ukhuwah Islamiyah, namun sering abai menyadari hal tersebut. Memastikan diri ada bersama saudara yang sedang memerlukan, terutama dalam kondisi puncak kritisnya.

Tekad menembus batas. Mungkin itu pula yang hendak ditekankannya kembali saat menyodorkan buku "The Coming Wave" di penghujung hayatnya. Meskipun sulit dan berat, containment must be possible. Seperti disebutkan di bagian akhir buku itu. 

Kami belajar banyak akan tampilan makna keikhlasan, pengorbanan dan keteguhan darinya. Keikhlasan yang tak melihat kepada ghanimah, popularitas, penghargaan, gelar, kemajuan dan kemunduran. Ia telah tampil sebagai jundi aqidah dan fikrah, bukan jundi hajat dan manfaat. 

Ia pun telah persembahkan jiwa, harta, waktu kehidupan dan segalanya yang dimiliki untuk meraih tujuan. Tak ada ungkapan, "sudah bukan zaman saya, saya sudah tua, silakan antum laksanakan, saya ingin menikmati hari-hari tua". Tak ada sama sekali itu muncul darinya. Dan kenyataannya, ia selalu lebih siap dari kami yang muda. Siap dengan segala artian, termasuk siap menjalankan arahan dari yang muda-muda. 

Ia menghayati makna tsabat, senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan Allah yang mengantarkan pada tujuan, betapapun jauhnya jarak dan lamanya waktu. Dan akhirnya, ia bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, mendapatkan salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau kesyahidan. 

Kenangan-kenangan tentangnya tentu terus bertumpukan di benak kita. Semoga kita bisa melanjutkan keteladanan serupa, bagi generasi berikutnya. Yaa Allah, saksikan kami yang mencintainya karena-Mu. Satukan kami di surga-Mu. Aamiin.

Oya, bila mendengar Kalbar, satu daerah yang ditanya adalah Bengkayang. Dulu ia pernah bertugas di sana... 

Al Faqir, Irfan
8/11/25

 

Tidak ada komentar: