Selesai sudah 90 tahun kurang 2 pekan
usianya. Ia tutup dengan ketenangan, meskipun jiwanya terus menderu
bersama kafilah perjuangan umat.
"Beliau
antusias sekali, sampai maju ke depan, berdiri sampai selesai,
mendengarkan dari dekat, dan mengajukan pertanyaan," tergopoh Ketua
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) bercerita tentangnya
kepadaku. Saat ia berkunjung ke Islamabad, menghadiri agenda charity.
Saat itu usianya sudah 75 tahun. Masih semangat dan antusias pada semua
dinamika kehidupan ini. Meskipun telah larut malam.
Lima
belas tahun berlalu, dan usianya memasuki tahun ke-90. Semangat dan
antusias itu tak pudar sedikitpun darinya. Selalu memastikan dirinya ada
di barisan dakwah dan perjuangan. Beriltizam untuk selalu hadir bersama
urusan umat dalam dan luar negeri, di manapun dan kapanpun.
Ia
tak mau tertinggal di setiap momen perjuangan umat Islam, di saat kami
mungkin dengan mudahnya undur diri, mewakilkan ke yang lain, bahkan
menunda atau mengelak. Ia selalu antusias menyimak setiap perkembangan,
di saat kami hanya mau peduli dengan urusan yang ada kaitannya dengan
kepentingan diri.
Ia yang
tak pernah minta diistimewakan di tengah orang-orang yang lebih muda.
Yang usianya bukan saja seumuran cucunya, bahkan seumuran cicitnya.
Salah satu fragmen tentang ini adalah rutinitas berbuka puasa bersama
para relawan Palestina. Ia turut duduk lesehan, tidak minta kursi atau
mengeluh dingin bila duduk di lantai. Dan kemarin saat akan dishalatkan
jenazahnya, Imam masjid dekat rumahnya pun bercerita, bahwa ia selalu
shalat di masjid dan tak mau pakai kursi. Tetap berdiri seperti jama'ah
lainnya. Tetap duduk seperti jama'ah lainnya.
Bila
kita ada keperluan dengannya, justru ia yang mengejar kita. Mengejar
dalam artian meluangkan waktu, antusias menemui, bahkan tak jarang ia
yang menghampiri meskipun harus naik mobil yang disupiri sendiri.
Kita
belajar darinya tentang tekad menembus batas. Tentang keimanan yang
menembus ruang-ruang ketidakmungkinan, sebagaimana hakikat dakwah
sebagai gerakan dengan izin-Nya. Dua tahun sebelum wafatnya menjadi
momen yang semakin menguatkan keteladanan itu dari sosoknya. Seiring
munculnya Thufanul Aqsha, sedari awal ia langsung mengumpulkan dan
meminta cari jalan untuk menemui saudara di Palestina. "Dalam kondisi
seperti ini, mereka perlu saudara yang membersamai. Jadi kita pastikan
ada bersama mereka," pesannya.
Yaa
Rabb... Kami yang tumbuh dari lingkungan pendidikan islami, dan
memahami ukhuwah Islamiyah, namun sering abai menyadari hal tersebut.
Memastikan diri ada bersama saudara yang sedang memerlukan, terutama
dalam kondisi puncak kritisnya.
Tekad
menembus batas. Mungkin itu pula yang hendak ditekankannya kembali saat
menyodorkan buku "The Coming Wave" di penghujung hayatnya. Meskipun
sulit dan berat, containment must be possible. Seperti disebutkan di
bagian akhir buku itu.
Kami
belajar banyak akan tampilan makna keikhlasan, pengorbanan dan
keteguhan darinya. Keikhlasan yang tak melihat kepada ghanimah,
popularitas, penghargaan, gelar, kemajuan dan kemunduran. Ia telah
tampil sebagai jundi aqidah dan fikrah, bukan jundi hajat dan manfaat.
Ia
pun telah persembahkan jiwa, harta, waktu kehidupan dan segalanya yang
dimiliki untuk meraih tujuan. Tak ada ungkapan, "sudah bukan zaman saya,
saya sudah tua, silakan antum laksanakan, saya ingin menikmati
hari-hari tua". Tak ada sama sekali itu muncul darinya. Dan
kenyataannya, ia selalu lebih siap dari kami yang muda. Siap dengan
segala artian, termasuk siap menjalankan arahan dari yang muda-muda.
Ia
menghayati makna tsabat, senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan
Allah yang mengantarkan pada tujuan, betapapun jauhnya jarak dan lamanya
waktu. Dan akhirnya, ia bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian,
mendapatkan salah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau kesyahidan.
Kenangan-kenangan
tentangnya tentu terus bertumpukan di benak kita. Semoga kita bisa
melanjutkan keteladanan serupa, bagi generasi berikutnya. Yaa Allah,
saksikan kami yang mencintainya karena-Mu. Satukan kami di surga-Mu.
Aamiin.
Oya, bila mendengar Kalbar, satu daerah yang ditanya adalah Bengkayang. Dulu ia pernah bertugas di sana...
Al Faqir, Irfan
8/11/25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar