Senin, 07 September 2015

KHUTBAH NIKAH YANG SERING TERABAIKAN


IRFAN AZIZI, (06/09/2015) _ Setiap ada undangan aqad nikah dan walimah, sebisa mungkin saya akan menyempatkan hadir bila tidak ada halangan jarak. Biasanya pula, bila waktunya berbeda dan tidak bisa menghadiri semuanya, maka saya akan lebih memilih menghadiri aqad nikahnya. 

Bagi saya, turut menjadi saksi aqad nikah merupakan penghormatan tersendiri bagi kedua mempelai. Selain juga, pada sesi aqad nikah ada khutbah nikah, yang memuat nasehat - nasehat unik nan berharga, baik bagi yang belum menikah maupun lebih penting lagi bagi yang sudah menikah untuk kembali memfokuskan visi keluarga Muslim. 

Lebih dari itu, saya memang sengaja datang pada sesi aqad nikah untuk merekam khutbah nikah atau minimal mencatatnya. Hal ini saya lakukan, karena seringkali mendapati para hadirin -bahkan kedua mempelai- justru tidak konsentrasi atau malah mengabaikan penyampaian khutbah nikah. Pun bagi petugas dokumentasi, sesi khutbah nikah sering kali tidak menjadi prioritas dokumentasi. Bila sempat terdokumentasi, sering pula tidak lengkap dan hanya sepotong kalimat pembuka yang belum masuk ke isi materi. 

Padahal materi khutbah nikah, merupakan materi untuk mengokohkan bangunan sosial berbasis keluarga. Mereka yang ingin melakukan perubahan-perubahan, hendaknya memiliki konsen khusus dalam menyelami materi-materi khutbah nikah. 

Berikut sedikit poin-poin ringkasan khutbah nikah yang disampaikan oleh ustadz Almuzammil Yusuf saat aqad nikah sahabat saya; Ricky dan Nesya di Masjid Manarul Amal, Universitas Mercu Buana - Jakarta. Saya bersyukur dapat turut menyimak khutbah nikah dari ustadz yang meski sibuk sebagai anggota DPR RI masih menyempatkan memenuhi undangan walau hanya forum sederhana. 

Semoga sedikit ringkasan materi khutbah nikah ini dapat bermanfaat...


1. Saat ini, kita mendapat tantangan beragam konferensi. Yang menunjukkan, berapa banyak ummat ini yang tidak lagi menghormati lembaga pernikahan. 

2. Padahal lembaga pernikahan adalah rumah psikologis. 

3. Begitulah Rasulullah, hari pertama mendapatkan wahyu, beliau lari ke rumah. Selimutilah aku, Selimutilah aku. Istri menjadi tempat bercerita suka dan duka. 

4. Tidak ada cara untuk menggapai rumah tangga yang bahagia, kecuali dengan menghormati perintah Rasulullah. Sebaik2-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.

5. Namun kita juga belajar dari istri-istri Rasulullah, "Sebaik-baik kaum wanita adalah yang pandai bersyukur, jika ia mendapat pemberian suaminya, ia pandai bersyukur, juga pandai berhias di depan suaminya."

6. Pertemuan suami yang mengasihi dan istri yang taat adalah pertemuan rumah tangga yang baik. 

7. Dengan demikian, kita mencontoh nabi, juga mencontoh keluarga nabi.

8. Terakhir, yang ketiga adalah berpegang pada al Quran dan as Sunnah sebagai panduan. Begitulah keluarga dibangun.

5 komentar:

Eka Rosaria mengatakan...

Ilmu manfaat buat menggapai sakinah mawaddah dan rohmah...

Eka Rosaria mengatakan...

Ilmu manfaat buat menggapai sakinah mawaddah dan rohmah...

Anonim mengatakan...

Mantaaaap!
Asyik, Mas, khutbahnya.
Ayo2, sering2 bikin acara yg ada khutbah nikahnya (lho? :D)

Irfan Azizi mengatakan...

wkwkwk.... parah nih kang, Ded :p

Anonim mengatakan...

waaaah itu aku ga bisa hadir aqadnya nesya :( makasih rekaman taujihnya, ustadz irfan