Rabu, 30 September 2015

KETIKA KITA BERMILAD


IRFAN AZIZI, (30/09/2015) _ Ketika kita bermilad, maka artinya pengalaman hidup kita bertambah. Seiring bertambahnya pengalaman inilah, maka medan jangkau kehidupan kita pun bertambah. Itu artinya, semakin banyak lahan yang kita garap, semakin banyak sumber daya yang kita gunakan.

Maka, ada satu tantangan pada setiap pertambahan usia; yaitu manajemen sumber daya. Agar kita bisa lebih optimal mengeksplorasinya hingga tuntas sebagai sebuah amanah pemberdayaan, namun juga agar kita tidak semakin terjebak pada pemborosan yang merupakan lingkar jerat syaitan.

Oleh karenanya, momentum milad adalah momentum refleksi diri. Apakah kita semakin optimal? Apakah kita mampu terhindar dari jebakan pemborosan?

Sebab ketidak-optimalan itu membuat usia kita tak bernilai. Karena derajat optimal ada pada nilai amal, sehingga turunnya nilai amal menjadikan turunnya nilai hidup kita. Dan sebagaimana keyakinan kita, usia hidup kita sesungguhnya adalah usia amal-amal kita, bukannya usia nafas kehidupan itu sendiri.

Pun... Sebab pemborosan itu adalah disorientasi kehidupan, dan disorientasi kehidupan adalah pangkal kezaliman, yang mengakibatkan banyak hak terampas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Muqaffa, "Aku tidak melihat suatu pemborosan terjadi kecuali di sampingnya ada hak yang dirampas oleh yang melakukan pemborosan itu."

Bila tak semakin optimal dan cenderung pemborosan, maka apa artinya bertambahnya usia kehidupan? Karena tak optimal membuat hidup kita tak bernilai. Karena pemborosan membuat hidup kita tanpa arah. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar: