Selasa, 04 Oktober 2016

MENYUSURI PESISIR SELATAN, MENGUNJUNGI MASJID RAYA MAHABBATUL QULUB


Saat melintasi kabupaten Pesisir Selatan, Solo Touring JPRMI (Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia) sempat masuk ke Nagari Siguntur di kecamatan Koto XI Tarusan. Memasuki nagari ini, mengingatkan pada sebuah kerajaan yang mulanya beragama Hindu-Budha namun kemudian menjadi kerajaan Islam. Itulah kerajaan Siguntur, yang dalam bahasa minang disebut Siguntua.


Singkatnya, kerajaan Hindu-Budha itu akhirnya terwarnai oleh Islam pada abad ke 16, saat kerajaan dipimpin oleh Raja Pramesora. Setelah agama Islam dianut oleh kerajaan itu, nama Raja-nya pun diganti menjadi Sultan Muhammad Syah bin Sora Iskandarsyah. Lalu berturut-turut kerajaan dipimpin oleh Abdul Jalil Sutan Syah (1575-1650), Sultan Abdul Qadir (1650-1727), Sultan Amiruddin (1727-1864), Sultan Ali Akbar (1864-1914) dan Sultan Abu Bakar (1914-1968).

Pada masa Sultan Abu Bakar inilah Republik Indonesia diproklamirkan. Sekaligus inilah akhir eksistensi kerajaan Siguntur. Setelah wafatnya Sultan Abu Bakar, kerajaan tak lagi memiliki wilayah kekuasaan lagi. Namun ahli warisnya tetap bisa ditemui dengan Sultan Hendri yang menjabat sebagai kepala kerajaan.

Di antara peninggalan kerajaan ini yang masih bisa didapati adalah stempel berbahasa Arab milik Raja Muslim pertama dan Raja Muslim kedua. Sultan Muhammad Syah bin Sora Iskandarsyah memiliki stempel bertuliskan "Muhammad Sultan Syah Fi Siguntur Lillahi". Adapun Sultan Abdul Jalil Sutan Syah memiliki stempel bertuliskan "Al-Watsiqubi 'inayatillahil 'azhiim Sutan Sri Maharaja Diraja Ibnu Sutan Abdul Jalil 'inaya Syah Almarhum."

Di nagari ini, Solo Touring JPRMI mampir di Masjid Raya Mahabbatul Qulub. Sebelum kemudian di hari yang sama (25 Agustus 2016) bertolak ke kota sebelah utaranya, yaitu Kota Padang. Masih banyak titik-titik masjid yang akan dikunjungi oleh Solo Touring JPRMI, untuk menyempurnakan aplikasi android AyokeMasjid.


___________
Tim Humas JPRMI, 4 Oktober 2016


Tidak ada komentar: