Senin, 22 Februari 2016

SASTRA SANTUN DI ERA DIGITAL: ANTARA PRODUK, NILAI DAN SARANA


Istilah sastra santun itu bisa saja menjadi polemik. Sebab, bila ada yang santun, maka ada yang tak santun. Maka, bila santun itu terpuji, sebaliknya tak santun itu tercela. Tentu dalam penilaian ada beragam perspektif. Itu pula yang akan membuat istilah ‘Sastra Santun’ ini rawan polemik. Tapi, dengan segala konsekuensi itulah Forum Lingkar Pena mengusung tema ini pada momentum Milad-nya yang ke-19.


Persoalannya memang pada nilai. Sebab penilaian itu relatif ‘subjektif’. Dan ‘nilai’ dalam tema ini adalah istilah ‘santun’. Adapun ‘sastra’ itu produk, maka ia bersifat netral. Sementara ‘era digital’ itu merupakan sarana berdimensi waktu dan ruang, maka iapun bersifat netral. Namun ‘santun’, itulah penilaiannya; yang relatif subjektif, yang rawan polemik.

Lalu, bagaimana kita membedah tema ini? Setidaknya pada urgensitas pengusungannya, lalu pada membumikan pemaknaannya. Sebab hanya begitulah cara paling elegan bagi kita dalam memandang sebuah tema; kenapa mengusungnya dan bagaimana membumikannya? Ya, hanya begitu cara kita memposisikan tema di antara relevansinya dan realistisnya.

Maka, kiranya ada tiga bagian yang bisa kita bedah dari tema ini. Bagian pertama adalah Sastra; itulah produknya. Bagian kedua adalah Santun; itulah nilainya. Bagian ketiga adalah Era Digital; itulah sarananya.

Bagian Pertama: Produk

Produk itu mulanya netral sebelum diisi nilai. Begitupun dengan produk Sastra. Produk ini adalah hasil dari olah jiwa berupa ungkapan; baik tertulis maupun hanya tertutur. Yang mempengaruhi kualitas produknya adalah kualitas jiwa dan kualitas proses olah jiwanya. Menurut budayawan Melayu bernama Abdul Malik, kualitas bahasa itu sesuai kualitas hati dan kualitas budi pekerti sang penuturnya.

Bagi seorang Muslim, menjadi titah Rabb dan Rasul untuk menjaga kualitas produk Sastra dan Bahasa-nya. Sebab Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam firman-Nya, “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 148)

Begitupun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam juga telah menegaskan akan hal ini dalam sebuah riwayat Tirmidzi, “Tidak ada sesuatupun yang melebihi beratnya budi pekerti yang baik dalam timbangan orang mukmin pada hari kiamat. Sesungguhnya, Allah membenci orang yang keji dan suka berkata kotor.

Bagian Kedua: Nilai

Bicara tentang nilai, maka kita bicara tentang kualitas insan. Sebab manusia-lah satu-satunya makhluk yang memiliki akal; sehingga bisa bernilai dan menilai. Maka semua peristiwa dan karya dalam kehidupan ini adalah hasil interaksi manusia; baik dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia maupun dengan makhluk selain manusia.

Sedangkan bicara tentang kualitas individu, berarti bicara tentang Pendidikan dan Aplikasi. Dua hal inilah yang menentukan seberapa bernilainya seseorang dan sesuatu yang dihasilkan oleh orang tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah sastra.

Bila kita menyeksamai UUD 45 pasal 31 ayat 3, maka kita dapati tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh konstitusi kita adalah “meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia”. Begitupun bila kita membuka UU no 20 tahun 2003 pasal 3.

Jadi, pendidikan itu sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas karakter; yang dalam tema Milad FLP kali ini digambarkan dengan istilah Santun. Maka bila Pendidikannya baik, akan Santun-lah insannya. Namun kualitas hasil Pendidikan ini belum teruji kelanggengannya kecuali ia masuk pada medan Aplikasi.

Secara Aplikasi, apa yang menguji nilai Santun? Sebagian besarnya adalah Perbedaan. Bahwa Perbedaan akan sangat menguji nilai Santun, begitulah.

Maka Raja Ali Haji dalam pasal V bait ke-6 dari Gurindam Dua Belas-nya menyatakan, “Jika hendak mengenal orang baik perangai, lihatlah ketika bercampur dengan orang ramai.” Sebab pada orang ramai itulah ada interaksi yang sangat dinamis, yang karenanya potensi perbedaannya sangat besar.

Lalu apa ukuran perangai Santun saat bercampur dengan orang ramai? Inilah yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam surat An Nisaa’ ayat 86, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.

Begitulah tujuan pendidikan; yaitu mendewasakan setiap pribadi. Dan kualitas kedewasaan seseorang dapat diukur dari cara menghadapi konflik. Santun itulah kedewasaannya, dan Konflik itulah ujiannya.

Adapun tingkat kedewasaan tertinggi seorang Muslim apabila telah dapat menghadapi konflik dengan mengaplikasikan firman-Nya dalam surat an Nisaa’ ayat 59, “Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Bagian Ketiga: Sarana

Setelah kita memahami bahwa produk itu mulanya bersifat netral, lalu ia memiliki nilai sesuai kualitas muatan yang mengisi produk tersebut, yang mana isi produk itu sangat tergantung dengan kualitas individu yang mengeluarkan produk tersebut; maka produk Sastra Santun itu kemudian terdistribusikan dan dikonsumsi melalui beragam sarana. Adapun sarana yang paling dominan untuk produk Sastra (Bahasa dan Ungkapan) saat ini adalah Digital. Sebab zaman kita saat ini terkategorikan sebagai Era Digital.

Digital inilah yang menjadi sarana ujian aplikasi bagi sebuah nilai; termasuk Sastra Santun. Lebih-lebih bila kita memahami bahwa Era Digital itu adalah era Perang Pemikiran. Karena tiba-tiba semua sarana yang ada dalam keseharian kita membutuhkan konten, yang tentu konten-konten itu adalah hasil dari beragam pemikiran yang saling melengkapi maupun saling menyelisihi. Atau yang sederhananya adalah bila era digital digambarkan dengan era sosial media via jejaring internet, maka itulah sarana yang mencampur-baurkan beragam produk bahasa dan ungkapan. Campur-baur di keramaian akun itulah yang sangat berpotensi konflik; dan itulah yang juga akan menjadi ujian bagi sebuah nilai Sastra Santun.

Epilog

Karena Sastra identik dengan Bahasa, maka mungkin kita perlu mengingat kembali penyampaian Dr. Yusuf Qaradhawi yang menyatakan bahwa salah satu pemicu perbedaan adalah Tabiat Bahasa. Bedanya tabiat bahasa inilah yang akhirnya memicu konflik.

Maka dalam kehidupan beragama, kita telah diajarkan mekanisme memahami bahasa (al Qur’an) dengan kaedah-kaedah bahasanya. Sebab dalam setiap teks bahasa itu ada ketentuan tabiat bahasanya tersendiri; baik arti bahasanya maupun susunan bahasanya. Maka dalam setiap teks bahasa sesungguhnya tersimpan beragam makna yang mengikutinya. Ada makna asli dan ada makna kiasan, ada makna eksplisit dan ada makna implisit, ada yang sifatnya umum dan ada yang sifatnya khusus, ada yang menyeluruh dan ada yang segmentasi, ada yang jelas dan ada yang isyarat, serta ada yang arahan tegas dan ada yang anjuran lunak. Belum lagi ditambah dengan intrepertasi masing-masing pembacanya. Dengan demikian, perbedaan itu memiliki dua model: Perbedaan Pemahaman dan Perbedaan Kecenderungan.

Sesungguhnya hampir semua perbedaan tak menjadi masalah dan diperbolehkan. Sebab perbedaan yang dilarang itu hanya dua hal: Perbedaan yang melahirkan Pembangkangan dan Perbedaan yang melahirkan Perpecahan.

Sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali Imran ayat 19, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Serta pernyataan-Nya pada ayat ke 103, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Lalu apa solusinya? Menurut Dr. Yusuf Qaradhawi dengan membatasi pemahaman istilahnya, dengan dijelaskan secara gamblang dan detail. Sehingga tidak terjadi kesalah-pahaman, yang berakibat pada perbedaan sehingga berkonflik.

Maka, akhirnya dapatlah kita menjawab dua pertanyaan di awal: (1) kenapa mengusungnya? (2) bagaimana membumikannya?

Kenapa mengusungnya? Sebab saat ini kita berada di Era Digital yang sesungguhnya adalah era Perang Pemikiran. Yang mana salah satu produk pemikiran itu berupa Sastra. Maka untuk memenangkan perang tersebut dan meredam konfliknya, kita perlu Sastra yang Santun. Sebab, sebagaimana kualitas kedewasaan seseorang dapat diukur dari cara menghadapi konflik, maka kesantunan sastra juga dapat diukur dari cara menghadapi konflik. Sehingga kualitas Sastra di era perang pemikiran semacam ini ada pada Kesantunannya; dengan barometer sederhananya sebagaimana sabda Rasul adalah membalas sesuatu dengan yang setara atau yang lebih baik.

Lalu, bagaimana membumikannya? Sebagaimana kita mengetahui bahwa yang menentukan nilai adalah Pendidikan dan Aplikasi, maka bila FLP menghendaki lahirnya pegiat-pegiat Sastra Santun hendaknya mengoptimalkan peran Kaderisasi-nya. Kaderisasi inilah yang menjalankan proses Pendidikan, Kaderisasi pula yang memberdayakan SDM dalam beragam Aplikasi. Dalam proses Kaderisasi akan ada kristalisasi pemahaman sehingga dapat membatasi makna istilah dan bahasan, yang darinya akan terlatih membalas segala sesuatu dengan yang setara maupun dengan yang lebih baik. Itulah esensinya.

Semoga FLP bisa melahirkan Sastra Santun beserta sekian banyak pegiat-pegiatnya. Aamiin.


Jakarta, 22 Februari 2016

Muhammad Irfan Abdul Aziz
Staff Div. Kaderisasi BPP FLP

*Tulisan ini adalah Pandangan Pribadi

2 komentar:

Ella Nurhayati mengatakan...

Sebab saat ini kita berada di Era Digital yang sesungguhnya adalah era Perang Pemikiran. Yang mana salah satu produk pemikiran itu berupa Sastra.

Suka dengan kalimat ini, Mas. Keren banget tulisannya. Suguhan yang ciamik di miladnya FLP. Sukses terus untuk forum lingkar pena. Saya bangga menjadi bagiannya.

Irfan Azizi mengatakan...

Hatur nuhun, Teh Ella... sudah mampir dan membersamai teman2 FLP Bogor