Jumat, 18 Desember 2015

MENYAMBUNG KEMBALI BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA


Izinkan saya menambahkan dua kata sebelum "Bulan Terbelah di Langit Amerika". Yaitu, Menyambung Kembali. Untuk judul tulisan ini.


Kontrasnya film ini, tampil di layar bioskop tak lama setelah ada selorohan kampanye kontroversial Donald Trump yang hendak 'menutup' tanah Amerika bagi semua Muslim. Calon Presiden dari Partai Republik itu sungguh-sungguh tampil di panggung demokrasi dengan mental tak demokrat.

Mungkin kehadiran film Bulan Terbelah di Langit Amerika dengan keluarnya statemen Donald Trump bukanlah suatu yang disengaja. Kebetulan saja; film ini siap tayang dan Donald Trump sedang asik-asiknya manggung. Tapi menurut saya, justru 'kebetulan' ini menguatkan substansi pesannya.

Film Bulan Terbelah di Langit Amerika secara umum sangat bagus sekali, baik penggarapannya maupun pemuatan pesan-pesannya. Hanya satu saja yang saya kurang 'sreg' di awalnya, yaitu adanya sebuah narasi "sejak 9/11 dunia menjadi terbelah".

Kenapa sejak 9/11? Apakah sebelumnya tidak terbelah? Atau tidakkah sebelumnya pernah terbelah? Dan, bilapun sudah tersambung akankah tidak terbelah lagi kelak? Toh, terkait masa depan ini pula yang dipikirkan di sepanjang alur film Bulan Terbelah di Langit Amerika; “Would the world be better without Islam?” (Apakah Dunia akan Lebih Baik bila Tanpa Islam?) 

Baiklah. Pertanyaan itu kita buat untuk renungan saja. Semoga dengannya kita semakin mengarifi akan faktor utama keterbelahan dalam kehidupan ini.

Kembali ke tambahan kata 'Menyambung Kembali'. Menurut saya, inilah yang ingin disampaikan dari film Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sayapun dalam beragam kesempatan menyampaikan, bahwa konflik dalam kehidupan ini asalnya dari dua hal; Kesalahan Definisi dan Keterputusan Sejarah.

Maka, menurut saya film ini hendak menyelesaikan sebab konflik yang kedua itu; Keterputusan Sejarah. Walaupun disambungnya tak tuntas, sebab hanya dibatasi 'Sejak 9/11'. Ala kulli hal, tak masalah. Mungkin karena produk film adalah produk yang segmentatif dan bersetting.

Keterputusan Sejarah itu memang salah satu sebab konflik. Yang bila kita merujuk pada film Bulan Terbelah di Langit Amerika, maka kita akan menemukan keterputusan - keterputusan itu di antaranya:

1. Gertrude (bosnya Hanum) memerintahkan untuk mewawancarai istri dan anak dari Ibrahim Hussein (yang tervonis sebagai pelaku terorisme 9/11). Inti perintah itu adalah menyambung 'keterputusan informasi' untuk menjawab pertanyaan masa depan "Apakah Dunia akan Lebih Baik Tanpa Islam?"

2. Julia Collins yang menyangka suaminya (Ibrahim Hussein) telah melakukan tindak terorisme hanya berdasar pada rekaman komunikasi suaminya dengan rekannya di Kabul dan rekaman komunikasi dengannya terakhir kali. Semua disangkanya, tanpa 'usaha menyambung' bagaimana asal-muasalnya.

3. Brown Phillipus yang tak mau menerima saran Ibrahim Hussein (pegawainya) untuk membantu anak-anak korban peperangan di negeri Muslim. Sederhana saja, dia tidak yakin bahwa membantu sosial itu dapat memberikan kebahagiaan. Ia memutus perspektif hidupnya sebatas kesuksesan bisnisnya saja, tak hendak 'menyambung sejarah' mereka yang bergelut merintis bisnis dan menggunakan kekayaan untuk membantu sesama. 

4. Michael Jones menggelar demontrasi untuk menolak pembangunan masjid di areal Ground Zero, tanpa mencermati bagaimana sejarah Muslim berperan di Amerika?

5. Tetangga Julia Collins yang saat mendapati Hanum berkerudung di depan rumahnya langsung bertanya dengan spontan nan polos, "Apakah agamamu mengajarkan untuk membunuh sesama?" Sungguh, itu cermin ketidak-pahaman akan sejarah. 

Begitulah, keterputusan sejarah selalu membuat perspektif kita tidak lengkap. Itulah yang akhirnya menyulut konflik. Dan dalam film itu, akhirnya ketersambungan cerita dapat menjelaskan: bahwa Ibrahim Hussein bukanlah teroris yang seharusnya mereka benci!

Ini mungkin sama halnya saat kita hendak memandang Amerika. Sebagian kita sibuk memusuhi Amerika. Sebagian ada yang berpura -pura cuek namun mau tidak mau masuk dalam pusaran konflik juga. Sebagian lagi berusaha memperbaiki hubungan dengan mengawali segalanya seakan punya kuasa membangun sejarah baru.

Kenapa kita tidak fokus saja 'menyambung sejarah'? Merunutnya hingga tersambung semua. Dan pada akhirnya, biarkan mereka yang menyulut konflik ditaklukkan dengan 'kebodohan'nya sendiri.

Mungkin, di antara sejarah yang perlu kita sambungkan itu adalah sebagai berikut:

1. Sejarah tahun 900 M. Mencermati prasasti berbahasa Arab yang ditemukan di Misississipi Valey dan Arizona. Yaitu sejarah tentang seorang Khasykhasy bin Said bin Aswad serta para pelaut Muslim dari Granada dan Afrika Barat yang mendarat di tanah Amerika hingga masa Dinasti Umayyah. 

2. Sejarah tahun 1422-an M. Yaitu riwayat tentang singgahnya Laksamana Cheng Ho yang seorang Muslim di daratan Amerika. 

3. Sejarah tahun 1492 M. Yaitu sejarah yang dikisahkan Colombus bahwa ia melihat sebuah Masjid saat melayari perairan dekat Gibara di tenggara pantai Kuba. Pun sejarah tentang Pizon Bersaudara (yang merupakan kerabat Sultan Maroko dari Dinasti Marinid, Abu Zayyan Muhammad III), keduanya adalah Nahkoda Muslim yang membantu Colombus; yaitu Martin Alonzo Pizon di kapal Pinta dan Vincente Yenez Pizon di kapal Nina.

Akhirnya, bila kita berkesempatan menonton film Bulan Terbelah di Langit Amerika, maka niatkan untuk turut serta menyambung Sejarah. Setidaknya sejarah yang terekam dalam benak kita masing-masing, lalu yang terbincangkan di sekitar kita.

Hanya dengan memahami sejarah, kita akan mampu tampil arif memerankan misi kerahmatan. Sebab dengan memahami sejarah; berarti menghimpun perspektif ruang, waktu dan sebab-akibat. Itulah modal merancang masa depan. Dan kita semua yang masih ditakdirkan hidup di dunia ini, sangat membutuhkannya.


Jum'at, 18 Desember 2015

Muhammad Irfan Abdul Aziz

3 komentar:

ilham anugrah mengatakan...

Anilisa yang bagus kang irfan. Memang benar kita harus menyambung kembali bulan terbelah, tapi bukan hanya sekedar film. Soalnya menyambun bulan tidak dengan lem atau perekat lainnya, tapi dengan hati, #eh

salam

Ilham
http://ilham.id/

Irfan Azizi mengatakan...

Aih, mas bisa aja... Memang kita harus hati-hati, agar hati dengan hati tersambung :)

Under Thirty mengatakan...

Ditunggu detail tiga hal penyambungnya kak Irf..