Kamis, 22 Februari 2018

Madrasah Pena Baca FLP: Sebuah Catatan di Milad FLP ke-21



Literasi adalah kemampuan menulis dan membaca. Literasi juga bermakna pengetahuan dan keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu. Selain itu, literasi juga merupakan seni menggunakan huruf untuk merepresentasikan bunyi atau kata.

Maka, melek literasi itu bila mampu menulis dan membaca, atau berpengetahuan dan terampil, atau cakap merepresentasikan bunyi dan kata. Karenanya, dengan kemampuan dan kecakapan seperti itu, serta pengetahuan dan keterampilan demikian, seseorang bisa tergolong sosok literatur yang jadi acuan.

Lalu pertanyaannya, apakah dengan melek literasi seperti itu otomatis menjadi insan beradab? Apakah menjadi acuan itu otomatis terjamin keadabannya? Inilah titik tekan jargon FLP periode 2017–2021, yaitu Literasi Berkeadaban.


Sebab, kemampuan dan kecakapan adalah hasil. Begitupun pengetahuan dan keterampilan adalah hasil. Persoalannya, hasil dari apa?

Sumbernya, bahannya, kandungan olahannya itulah yang tentukan nilai kemampuan dan kecakapan serta pengetahuan dan keterampilan yang dihasilkan. Begitupun proses hingga punya kemampuan dan kecakapan serta punya pengetahuan dan keterampilan itu juga akan tentukan nilai yang dihasilkan. Maka memperhatikan sumber, bahan, kandungan serta proses hingga menjadi melek literasi itu penting demi tercapainya keadaban. Karena itulah, FLP terapkan Sitem Kaderisasi Anggota dengan model pembinaan rutinnya berupa Diarahkan, Dibina dan Dipimpin, sebagaimana dijelaskan dalam Anggaran Rumah Tangga Bab II pasal 12 nomor 4 huruf d.

Hal itu demi memiliki keadaban. Itulah berkeadaban, yaitu memiliki ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin serta kebaikan budi pekerti. Sehingga dapat tampil dengan penuh kehalusan dan kebaikan pekerti, serta penuh kesopanan dan akhlak.

Begitulah, FLP hendak mengantarkan kita menjadi insan berkeadaban yang tak hanya melek literasi. Pun, FLP hendak antarkan literasi kita menjadi literasi berkeadaban yang tak sekadar tulis-baca atau tahu-terampil atau cakap merangkai seni huruf.

Mengembalikan spirit Pena sebagai makhluk Pertama dan Baca sebagai wahyu Pertama. Pena memang mesti menuliskan sesuai titah Allah. Baca memang mesti disertai dengan Asma Allah. Keduanya lawan bagi segala tuduhan semena dan halangan keji, sebagaimana latar peristiwa yang dikisahkan mengikuti Iqra’ dan Al Qolam.

Hal ini, agar FLP berperan lahirkan sosok seperti Shalahuddin nan santun, bukan Richard (Raja Inggris) atau Renault (Penguasa Benteng Kurk dan Syaubak) nan kejam. Setidaknya, FLP bisa memulai seperti Syeikh Abdul Qadir al Jailani memulai bangkitnya keadaban dengan kerjasama madrasah dan mengokohkan peran Guru.

Selamat #Milad21FLP
Mari membangun jaringan #MadrasahPenaBacaFLP sebagaimana spirit yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya, demi kembalinya #LiterasiBerkeadaban


Jakarta, 22 Februari 2018


Irfan Azizi
Koordinator Divisi Jaringan Wilayah
Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena

7 komentar:

Fauziah Rachmawati mengatakan...

aamiin Ya Robb.. menginspirasi sekali Mas...

Nufa Zee mengatakan...

Suka dengan semangat tema FLP saat ini #literasikeberadaban semoga semakin. mengingatkan kita untuk terus berkarya dan mengedepankan adab

Sri Widiyastuti mengatakan...

Terima kasih penjelasannya ustaz.jadi tambah mantap mengetahui maksud dan tujuan dari literasi keberadaban.

Junita susanti06 mengatakan...

Selamat milad FLP, semoga semakin mencerahkan dalam dunia literasi
Semoga aktivis FLP semakin semangat berkarya untuk literasi berkeadaban

Naqiyyah Syam mengatakan...

FLP selalu di hati, walau sudah pindah ke beberapa tempat hehe

antung apriana mengatakan...

Selamat milad FLP, semoga selalu melahirkan penulis berkualitas

ilham sadli mengatakan...

Saya ingat sama penjelasan dari kang Irfan di acara MILAD21flp yang kemarin kalau dengar tentang literasi berkeadaban 😊